Manipulasi

Pangandaran, 21 Januari 2018

Kegalauan siang ini mendadak muncul begitu besar manakala gue menyaksikan ibu-ibu lebih memilih sibuk dengan berbagai macam status ala-ala yang aduhai. Mereka lebih memilih bergosip dengan tangan dan matanya lewat chatting. Mereka lebih sering suka menonjolkan kebaikan yang mereka punya. Mereka memaksa menjadi sempurna untuk apa yang sedang mereka lakukan. Mereka lebih sibuk mempoles diri dengan berbagai status bijaknya. Mereka berusaha tampil begitu ciamik dan indah hanya sekedar untuk mendapat pujian manis. Mereka bisa saja GUE. Yang tengah sibuk mempercantik diri didepan banyak public. Lantas bagaimana isi hati lo, apa kabar iman lo, apakabar diri lo ? Hah, itu Norak Mey! Norak. 

Ditengah banyaknya kekurungan yang lo punya, lo sedang memanipulasi hidup lo sendiri. Lo sedang membangun istana yang bisa mendadak roboh hanya karena lo yang gegabah ingin dapat megahnya istana itu. Lo lupa milih bahan dengan kualitas yang bagus, lo lupa untuk memilih orang yang punya keahlian khusus dibidangnya. Lo terlalu sibuk ngalay diusia yang aduhaaai gak perlu gue sebutin. Terus apa hubungannya lo sama ibu-ibu diatas itu? Gak ada sih, cuma mikir aja apa mungkin nantipun saat gue menjadi seorang ibu akan melakukan hal yang sama. Apa mungkin bahkan gue yang usianya jauh dari mereka telah membohobgi diri gue sendiri, lantas bagaimana nanti?? apa kebohongan ini akan gue bawa sampai kelak gue punya anak, sampai kebingungan ini akan terjadi pula ke anak gue, dan mempertanyakan kenapa ibu gue seperti itu? Apa mungkin juga anak gue akan tertular hal yang sama seperti ibu nya ini? Apa mungkin anak gue juga akan lebih memilih memanipulasi dirinya dan lupa membangun iman yang kuat. Yang sejatinya harus tertanam lebih kuat dibanding gue ibunya, mengingat dijaman sekarang dunia sudah tak bisa dimaklumi lagi. 

Haha jauh amat ya gue ngomong sampai ke anak pula. Iyaap ... Gue terlalu banyak khawatir, terlalu banyak takut untuk kesalahan yang gue buat dan dampaknya nanti dimasa depan.  Iya, penyesalan itu selalu belakangan, tapi salahkah jika dari sekarang kita banyak belajar. Oh facebook, oh Instagram maaf sudah banyak celotehan yang membuat orang lain tak nyaman, membuat orang beranggapan kalau gue baik, membuat orang tertawa karena tingkah gue yang kekanak-kanakan dan tidak menjadikan kalian sebagai tempat yang lebih bermanfaat lagi. 
Oh iya lupa, thank you social media, yang karena mu, gue bisa belajar dan belajar lagi, yang telah membuat gue tersenyum lebar, membuat gue begitu nyaman menulis, dan membuat banyak orang bisa mengais rezeki. 
Oh Allah, mohon ampun untuk diri yang lebih memilih sibuk ingin terlihat baik didepan manusia dibanding banyak merenung dan muhasabah diri. 

Komentar

Postingan Populer