Apa Karena Ekonomi Kita yang Beda?
Gue sedih pas jadi tempat bersandarnya teman-teman manakala mereka jenuh dan mengeluarkan banyak keluhan tentang dunia perkuliahannya. Tentang apa yang mereka rasakan hanya karena setumpuk tugas yang gak pernah habis atau sekedar berjuang di tingkat akhir. Gue juga sedih manakala ada beberapa rupiah yang dikeluarkan untuk sekedar have fun, nongkrong bareng teman agar terlihat 'kekinian' dan banyak hamburin makanan.
Apa karena gue bukan mereka? Atau justru gue yang tidak bisa seperti mereka atau lantas gue yang baperan yang sok sibuk ngurusin hidup mereka?
Gue sebenernya pengen gak peduli hal itu, cuma sayang gue terlalu banyak tahu bahwa hidup sebagai seorang manusia di usia kepala dua bukan melulu tentang gimana kita terlihat keren sebagai mahasiswa atau gimana kita bangga karena bisa pakai toga. Melainkan mau gak sih lo sedikit aja simpati untuk sokongan yang buat lo bisa berdiri dan bisa dibilang sebagai "mahasiswa". Lo pernah gak kepikiran dan bayangin orangtua lo nyari duit, orangtua lo banting tulang hanya demi melihat anaknya bisa menjadi seorang sarjana. Bisa jadi manusia yang lebih baik lagi, bisa banyak manfaat buat banyak orang. Dan hidupnya tentu bisa lebih bagus dibanding orangtuanya. Pernah lo inget itu? Pernah lo mikir duit yang lo hamburin itu adalah duit pait bagi kedua orangtua lo sendiri.
Lo bisa makan enak, lo bisa nyisain makanan gt aja, lo bisa pesen makanan mahal dan dengan nada sinis lo bilang "gak enak", lo bisa lakuin apapun yang lo mau, tapi lo gak kepikir diluaran sana ada begitu banyak orang yang butuh makanan sisa itu, diluaran sana ada begitu banyak orang yang benar-benar punya tekad ingin kuliah sama seperti lo, ingin bayak berkonstribusi dan jadi orang yang bermanfaaat meski gue tahu menjadi seorang sarjana tidak menentukan dia bisa lebih manfaat dibanding seorang yang hanya lulusan SD sekalipun.
Gue sebel, gue kesel HAHAH
Dan yang pasti gue tau rasanya berjuang sendirian cuma sekedar gue pengen lanjut S1. Kenapa coba gue sekesel itu? Karena gue tau capeknya, sedihnya, dan lelahnya bayar kuliah. Karena gue tahu gimana rasanya jadi seorang petani, karena gue tau diluaran sana ada begitu banyak orang yang bersyukurnya tak tanggung-tanggung meski terhimpit masalah ekonomi. Gue bangga sama mereka, yang punya rasa ikhlas, yang tak pernah nyerah, yang gak punya apa-apa melainkan punya doa yang sangat dasyat, yang tumbuh dihatinya rasa cukup dengan apa yang mereka punya.
Oh iya lupa, apa mungkin karena ekonomi kita yang beda!
Dimana aku terlalu jadi pemikir dan gak bisa santai untuk apa yang sedang aku perjuangkan. Atau aku yang justru kurang bersyukur.
"Ya allah, ampuni kedua orangtua hamba. Yang terkadang sering mendzolimi dirinya sendiri hanya agar anak-anaknya bisa bahagia"
Komentar