Baperin Kerjaan
Majalengka, 22 Januari 2018
Hmm, akhir-akhir ini gue banyak ngeluh dan banyak galau hanya karena sebuah kerjaan. Hanya karena gue terlalu menakutkan banyak hal, gue terlalu sibuk memikirkan masa depan yang bla dan bla. Gue terlalu banyak mendengar kata orang yang harus ini dan itu padahal faktanya itu tak cukup meyakinkan diri gue sendiri akan keberadaan gue selama ini sebagai manusia. Gue lupa, pada tujuan gue diciptakan, pada apa dan siapa gue mempertanggungjawabkan hidup gue ini.
Tiba-tiba gue pengen banget meluapkan apa yang sedang menuhin otak gue ini, gue iseng cerita sama orang yang menurut gue dia bisa jawab dan buka lebar wawasan gue ini. Bisa sedikit ngeringanin dan kasih masukan buat gue, dan yaaa gue cerita lah semuanya. Cerita bahwa gue merasa gue tengah berada diambang jurang (caileehh lebay deh gue). Gue galau tentang kerja gue ini, gue galau apa keputusan gue ini benar atau salah dan gue khawatir tentang kerja gue ini baik tidak untuk masa depan gue sendiri.
Jawabannya bikin datar dan bikin gue gak puas, sekedar bilang “Jalanin dulu to ndok, kamu tidak tahu apa yang akan terjadi nanti”. Lah iya lah, mana gue tahu coba. Ada gak yang lebih nenangin hati gue lagi, ada gak yang bisa bikin gue untuk gak ngulik dan ngulik terus, dan gak banyak tanya “terus? Terus? Atau kenapa? Kenapa?”. Sampai tiba-tiba dia kasih nasehat, kurang lebih intinya seperti ini.
----
Ternyata gue harus ridho dengan takdir Allah bukan mencari ridho Allah. Gue bisa tetap ikhlas disegala keadaan kalau gue sudah memenangkan hati gue sendiri. Karena ternyata ada banyak orang yang terbudakan oleh gaji. Padahal semuanya bukan selalu harus dihitung secara matematis, kalau mau nurutin dan ngitungin gaji semuanya jauh daripada kata cukup. Gue harus berproses, bukan melulu tentang nilai materil tapi kesiapan dan kemantapan hati untuk menjadi manusia yang seutuhnya. Manusia yang lebih bermanfaat buat oranglain, manusia yang mau bersyukur untuk apapun yang Allah kasih. Bukankah menjadi manusia yang bermanfaat itu jauh lebih menggiurkan dibanding gaji gede tapi kurang bermanfaat bagi sesama atau justru tidak ada sedikitpun ketenangan dalam hidupnya. Mungkin dompetnya tebal, rumahnya megah, kendaraanya bagus dan pakaiannya indah, tapi kita tidak tahu apakah mereka memang berbahagia dengan limpahan yang mereka punya, atau apakah mereka berbahagia dengan banyaknya syukur yang ada pada hatinya atau justru ada begitu banyak kesakitan yang bahkan sama sekali tak tampak secara kasat mata. Atau bisa jadi, wujudnya memang sederhana, nampak rapuh dan biasa saja. Tapi bisa jadi mereka menikmati rezeki berupa sehat jasmani dan rohani, mereka bisa menghabiskan banyak waktu untuk beribadah atau sekedar bercengkrama dengan keluarganya sendiri. Baginya itu semua adalah rezeki nomplok yang Allah kasih yang tak terhitung secara matematis.
Wallahu’alam, karena manusia selalu banyak mencari yang kurang dibanding mau faham akan kelebihan yang Allah kasih dihatinya bahkan pada raganya sekalipun.
Jadi ya, kembali lagi. Ternyata tujuan gue memang salah. Gue udah banyak melencengnya, pikiran gue terkotak-katik dengan sebuah angka. Padahal nyatanya gue cukup sekedar bersyukur. Bersyukur bisa kerja, bersyukur punya gaji sedikit tapi hati gue tenang, bersyukur gue gak kerja panas-panasan diluar atau dijalanan, bersyukur gue sehat walafiat tanpa bolak-balik pergi berobat, bersyukur dipertemukan dengan orang-orang yang bisa kasih energi positif buat diri gue dan yang penting bersyukur gue masih bisa beribadah dengan tenang. Ahhh mari ucap Alhamdulillahirobbil aalaamiin.
By the way, gue kangen Liqo, kangen banget. Dan nyesel pernah mikir buat apa coba keseringan Liqo, ternyata gue dapet jawabannya sekarang, Liqo itu sebuah kebutuhan. Itu vitamin buat asupan hati dan pikiran. Gue merasa berdosa, meninggalkan banyak teman sholehah dengan alasan yang gak jelas. Gue masih butuh ditegur dan dinasehati, gue masih perlu dibimbing dan disalahkan. Gue masih harus terus belajar ngaji, belajar nanya ke orang yang lebih faham. Gue masih butuh kalian semua. Salam rindu untuk teman-teman yang gue tinggalkan, maaf (
Komentar