Cemburu Waktu



Dia tetap sama,
Sibuk dengan segala rutinitasnya, dengan segala macam kegiatan yang ia sukai dari dulu. Kertas-kertas itu berserakan dimana-mana, belum lagi monitor itu tetap memantulkan cahayanya, ia tetap sama seperti dulu.
Tanpa lelah dan letih, ia selalu tersenyum dalam kondisi apapun. Tak pernah peduli dengan tubuhnya, tak pernah peduli dengan waktu istirahatnya yang sebentar, tak pernah peduli dengan segala keringat yang telah ia keluarkan, semuanya tak percuma. Benar-benar tak percuma.
Ia tetap menjadi pahlawan dimanapun ia berada. Malaikat penjaga itu seolah-olah tak pernah henti untuk berbicara. Tak pernah henti ingin menjaga semuanya dalam kondisi apapun. Dan lagi, ia tetap sama seperti dulu.
Setiap kali ia bercerita sungguh menggugah hati untuk selalu bilang “aku sungguh bangga kepadamu”. Dengan semua waktu yang tak pernah ia sia-siakan, dengan segala kebahagian yang ia ciptakan, aku jatuh cinta pada orang sibuk itu.
Aku selalu bahagia saat ia bercerita panjang lebar tentang kegiatannya, tentang pencapaian yang telah ia capai, tentang perencanaan yang telah ia susun, semuanya membuatku kagum. Dan aku, hanya menjadi pendengar setia tatkala ia dengan semangat yang menggelora berkisah tentang hidupnya. Dan tentu lagi, pengetahuan ku yang minim, wawasanku yang tak seluas wawasannya harus stand by dengan kata-kata “wah, iya?, selamat yah, semangat” berputar diarea itu.
Sedih ? iya, aku tidak bisa jadi pendengar dan penasehat yang baik baginya, aku tak pernah bisa sepadan dengannya dan aku hanya akan berkata seperti itu setiap kali ia bercerita. Sungguh, dari hati yang terdalam ingin jadi pendamping yang tidak hanya menjadi penonton setia setiap hari melainkan bisa benar-benar menggemgam tangannya dan akan selalu mendampinginya dipuncak sukses itu. Ah, apalah dayaku ini. aku hanya wanita biasa dan sederhana, sepantasnya sadar diri atas keadaanku sekarang.
Tapi tahukah, meski setiap kali ia bercerita panjang lebar tentang dunianya, seiring waktu yang kupunya bersamanya sangat terbatas, terbesitt rasa ingin memilikinya hanya dalam bilangan menit saja. Cukup bilangan menit, tak ada satu haripun yang ingin aku pinjam atas waktu yang ia punya. Sebatas ingin bercerita tentang keluhku, kegiatan sehari-hari, dan bermanja dengannya layaknya seperti orang lain. Aku hanya cemburu terhadap waktu yang ia punya, benar-benar cemburu. Tapi….siapalah aku ini J
Setiap kali hati ini lelah menunggunya, acap kali ingin menyerah atas keadaan ini. Ingin lari sejauh mungkin, ingin sembunyi ditempat yang tak sedikitpun ia tahu dan ingin lenyap dari pandangannya. Tapi apa daya, hati kecil selalu berkata “ percayalah, percayalah” aku tak bisa berlari jauh darinya. Dan biarlah, ia bahagia dengan waktu dan dunianya, begitupun aku yang bahagia menjadi penonton setia untuknya, cukup Maya J.


#C.A.

Komentar