Aku Pernah Berjuang
Kayuhan
sepeda, akan menjadi kenangan terakhir bersama laki-laki itu. Kami menghabiskan
waktu seharian dibawah rintik hujan, sederhana tapi kami sangat menikamati
obrolan pagi itu, tentang masa lalu kami dan masa depan kami nanti. Laki-laki itu
tidak pernah sedikutpun sibuk dengan segemgam perasaan yang akan menyita waktu.
Ia tetap dingin dengan setumpuk tugas organisasi yang ia jabati. Hampir 21
tahun, entahlah aku terlalu malu jika bertanya kapan ia jatuh cinta dan siapa
cinta pertamanya. Terlepas dari itu, aku ingin menjadi bait kedua setelah ibu
kandungnya. Sungguh sangat indah kala itu. Hubungan kami berbeda dengan
hubungan biasanya. Bagaimana tidak, kami tidak memiliki sebuah status yang akan
memperjelas keduanya, sama sekali tidak. Meski kami tahu, kami saling
menyayangi satu sama lain.
Ada
alasan kenapa tak kami gemgem satu sama lain. Alasan itu benar-benar mengoyak
perasaan, rumit dan tidak bisa dibiarkan begitu saja, sungguh kami tidak bisa
melawan alasan itu. Ada aturan yang sangat jelas berdiri. Sehebat apapun
argument yang akan kami lawan, sehebat itupun kami akan terhempas begitu dalam
dan jauh, apalah daya kami sebagai manusia biasa yang tidak bisa menahan
gejolak perasaan yang setiap hari hinggap dihati.
Aku
begitu menyayanginya, tanpa harus ada alasan yang panjang lebar yang akan
memperjelas keduanya. Obrolan lewat telepon dan chat messanger hanya
satu-satunya komunikasi yang bisa kami pakai. Pukul 04.00 adalah waktu kami
menghabiskan untuk sekedar melepas rindu seharian. Selalu begitu setiap hari
hingga suatu ketika aku harus menelah pil pahit dalam hidupku. Kami harus
terbiasa tanppa komunikasi. Tanpa chat manis yang panjang lebar setiap harinya,
tanpa harus mendengar suaranya lewat telepon dan harus kehilangan suara ia bernyanyi
sambil memainkan gitar. Sedih, kecewa, sakit, benar-benar campur aduk. Kenapa
harus seperti ini ? kenapa kami harus terpisah seperti ini ? kenapa kau
ciptakan aturan ini, Tuhan ? ada apa dengan aturan agama ini? Yang mengharuskan
kami seperti ini, kami harus benar-benar berpisah.
“Bodoh
na! kamu bodoh ! jelas-jelas kamu tau dia adalah aktivis dakwah dikampus.
Kenapa masih lanjutin hubungan dengannya. Kalau sekarang dia memintamu untuk
berhenti sampai disini, itu sudah konsekuensi hubungan yang kalian jaga.
Aturannya memang seperti itu.” Ucap Dinda siang itu dengan raut muka yang kesal
menghadapi keras kepalanya aku.
“aku
tahu din, aku tahu. Tapi kenapa ….”
“kenapa
apa na? karena kalian sedang berada di atas dan merasa benar-benar lagi jatuh
cinta sama dia? Iya ? atau waktunya terlalu singkat? Atau bahkan waktunya tidak
tepat dan kamu belum siap? Begitu na”
“jawab
na, jawab!! Kenapa, ada apa sama Hana, siapa kamu sekarang Hana, kamu siapa?
Aku sama sekali tak mengenal sosok periang itu ? mana Hana yang aku kenal. Mana
Hana??” kali ini nada Dinda benar-benar tinggi. Badanku terguncang dibuatnya.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Memang sudah 2 minggu ini aku lebih pendiam.
Keceriaanku yang sering aku tunjukan harus terganti oleh kesedihan yang amat
dalam.
“tapi
aku belum pernah melakukan hal-hal negative din, belum pernah bersentuhan,
tidak pacaran. Apa aku sudah melanggar batas itu, aturan mana yang membuat kita
harus seperti ini din, tak ada sedikitpun yang harus dilanggar. Itu bukan
langgaran dinda. Bukan.”
“tetap
salah Hana, sikap kalian, cara yang kalian lakukan tetap salah. Peraturan tak
menganjurkan seperti itu. Jika memang kalian saling mencitai, berhentilah
sampai disini. Belajarlah untuk memperbaiki semuanya, perbaiki diri kamu sebaik
mungkuin Hana. Aku tak perlu panjang lebar bercerita tentang aturan yang ada,
aku yakin kamu jauh lebih tahu disbanding aku na”.
Lagi-lagi
aku hanya terdiam. Mencerna semua yang barusan Dinda bilang. It’s ok kita
salah, tapi kenapa dia tarik masuk hati aku seperti ini. Kenapa membiarkan aku
menyelami semuanya sejauh ini. Kenapa begini caranaya? Kenapa ??. jika ada yang
salah diantara kami kenapa tak juga ia perjelas semuanya. Membiarkan perasaanku
terus mengalir padanya. Aku seorang perempuan, tak tahu kah jika seorang perempuan
butuh sebuah penjelasan? Apa begitu berat jika harus memperjelas semuanya. Jika
ingin memperbaiki semuanya, ayo perbaiki bersama-sama, jangan pergi begitu saja
tanpa alasan yang tak pasti. Dan kemudian datang dengan harapan-harapan yang ia
berikan.
“na,
berhenti menyalahkan dia. Sungguh, aku akan jadi orang pertama yang membencimu
jika kamu terus berdalih jika dia yang salah. Berhenti seperti ini, aku juga
pernah berdiri disana sepanjang hari. Percuma na, percuma. Dia sedang menjagamu
na, sungguh aku tak penah berbohong dan bermain-main dengan sebuah perasaan.
Dia hanya ingin menyelamatkan perasaanmu. Hingga saat yang tepat na,
benar-benar tepat. Biarkanlah hati yang baik memenangkan hati yang terbaik.
Mulai sekarang sederhakan perasaanmu.” Lagi-lagi Dinda sahabatku yang membuka
lebar-lebar hatiku. Mencoba untuk mencerna setiap perkataannya. Memang benar
apa yang ia katakana padaku. Dipelukannya aku tumpahkan semua perasaan.
Berharap setelah itu aku akan tetap tangguh dan kuat. Bisa membuang pikiran negative
yang setiap hari bersarang dihati.
***
2 tahun kemudian
Akhir-akhir
ini aku harus melawan ego yang sering kali timbul. Tidak cukup dengan waktu dua
tahun aku harus bangkit dari kenangan itu. Lantas aku harus terbiasa dengan
hari ini dan hari esok. Berjalan maju disisa kepingan luka yang ada. Jatuh, bangkit,
jatuh, bangkit. Selalu seperti itu. Dalam waktu 2 tahun pun aku sudah tidak
berkomunikasi dengannya, meski beratusan email telah ku kirim padanya. Tidak
cukup sampai disana, aku selalu mencari kabar mengenai aktivitasnya selama ini
dari negri tetangga Singapure karena sekarang aku berada di negri yang berbeda
untuk mengambil tawaran master disana,. Itu sama sekali tidak membuatku
menyerah padanya.
Diam-diam
secara pasti sampai detik ini, dia tetap menjadi isi dari sebuah do’a yang
kupanjatkan setiap hari. Masih tetap ingin menjadi barisan kedua setelah
ibunya. Malam itu, tepat pukul 21.40 aku masih sibuk bergelut dengan tugas
kuliah dan hampir lupa ada tugas kuliah yang mesti aku kirim lewat email dan dadlinenya
malam ini juga.
“Oh
Hana, ceroboh sekali’’ gumamku sambil segera mungkin membuka email untuk
mengirim file berisi tugas.
Tapi
tiba-tiba saja, jari jemariku bergetar begitu hebat, kotak masuk dengan nama
email Haikal Al-Fatih jelas-jelas berada didepan mata. Ku geleng-gelengkan
kepala dan mengucek mataku berulang kali sambil mengambil kacamata yang ada dalam tas.
Barangkali mataku yang bermasalah karena memang mataku minus.
“Haikal?
Haikal? Haikal?’’ ucapku yang tak henti menyebut namanya. Bagaimana tidak, 2
tahun ini tidak ada sedikitpun email yang dia balas, dan malam ini, oh Tuhan….
Ada apa ini ??. perasaan gelisah, takut dan bahagia, semua bercampur begitu
saja. Sesegera mungkin dengan tangan bergetar dan dada yang berdebar-debar aku
membuka email tersebut. Dibacanya tulisan panjang itu.
Bandung, 21 April 2012
Ketika
nanti pertemuan berujung pada sebuah kehilangan, aku hanya bisa menikmati
sebuah kenangan. Semoga Hana tidak pernah menghukum masa lalu kita sebagai
kesalahan yang benar-benar tidak bisa termaafkan. Suatu hari, Hana harus tahu
bahwa aku adalah pelajaran yang akan mendewasakan dan membuat Hana lebih
bijaksana menyikapi kehidupan. Mulai sekarang, Hana tidak perlu berharap
berlebihan padaku. Tidak perlu sibuk berdiri dengan segudang kesedihan dan
seribu penyesalan. Hana juga tidak perlu berkirim email lagi, itu benar-benar
sangat menggangguku selama ini. Tetaplah sibuk dengan aktivitas yang sekarang
Hana lakukan. Berhentilah mencari informasi tentang aku. Berhenti bersedih
karena hal yang tidak pasti. Jangan berlari sekeras hati lagi mulai sekarang.
Aku hanya masa lalu yang tidak pernah bisa bersanding seperti sedia kala lagi.
Tidak perlu menunggu laki-laki macam aku lagi, karena kini aku telah bersanding
dengan wanita yang telah aku halalkan baginya 1 jam yang lalu. Jangan tanya
kenapa,karena sekeras apapun aku berusaha membuat Hana paham, Hana tidak akan
pernah mendengarkan. Percayalah, Hana akan menjadi yang kuat, yang mengerti dan
yang tau bagaimana bangkit. Nanti, akan ada seseorang yang memeluk Hana begitu
erat, sangat erat. Semoga, kita bisa dipertemukan lagi dengan kebahagiaan
masing-masing.
Salam,
Haikal
Al-Fatih
Ku tutup pesan itu dengan luka
yang begitu dalam, sangat dalam. Satu tetes air itu jatuh dari pelupuk mata.
Mungkin, dia tidak pernah menyakitiku sama sekali, aku yang berharap terlalu
lebih. Mungkin …..
***
1 bulan kemudian, aku harus
tetap bangkit dengan segala masalah yang telah aku hadapi. Sekeras apapun itu,
aku tidak bisa berdiam diri disini. Mencoba bangkit itu tidak semudah
membalikan telapak tangan, butuh proses yang sangat lama. Aku tidak ingin
berdusta dengan berkata sudah tidak menyayanginya lagi, sampai kapanpun pria
yang menjadi masa depanmu pernah menempati ruang yang special dihatiku. Dan untuk
tidak berbahagia atas kebahagiaan orang rasanya meski dipikir ulang dengan
matang-matang. Sekalipun harus menahan dan menanggung semuanya, jalan Tuhan
memang diluar skenario. Kepercayaan yang selama ini tumbuh mungkin tertanam di
lahan yang salah. Pergilah mas, dengan hati-hati. Setidaknya aku pernah
berjuang. Saat nanti kamu tanya mengapa aku hilang, mungkin air matamu bisa
mewakili perasaanku kala ini dan nanti.
#C.A.
Komentar