Pelangi Waktu
Jari jemari ini terus menari-nari diatas
laptop yang sudah menemaniku 2 tahun terakhir ini. Menjadi seorang mahasiswa
yang mendapat kepercayaan untuk mendapatkan
beasiswa menuntutku untuk tidak bermanja dengan segala urusan yang ada.
Setiap malam aku harus terbiasa dengan setumpuk buku tebal, setumpuk masalah
organisasi kampus dan masalah keluarga yang dihadapkan dengan bermacam masalah
berkepanjangan. Ah, rasanya ingin segera terlepas dari segala macam cobaan
Tuhan ini.
Cita-cita menjadi seorang dokter harus
pupus karena masalah ekonomi, ingin bermodalkan otakpun lagi-lagi harus pupus
dengan persaingan yang begitu ketat. Sekarang ini hanya bisa bermodalkan
kesempatan dan rezeki yang diberikan padaku. Menjalankan semuanya sesuai
prosedur yang sudah ada. Hanya bisa menaiki sebuah tangga satu persatu dengan
perjuangan yang sungguh menyita waktu. SMP telah dilalui dengan prestasi yang
cukup memuaskan sementara SMA harus dilalui dengan prestasi yang harus
memuaskan untuk mengubah semuanya agar menjadi lebih baik lagi. Berharap ada
keajaiaban untuk bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi. Dan Tuhan,
tak pernah mengalihkan pandangannya sedikitpun dariku. Ketika aku berjalan
kearah yang salah sedikitpun iya tetap setia denngaku sampai saat ini.
Ku lirik teman-teman satu kamar. Mereka
sedang larut dengan bunga mimpinya itu, sementara aku harus menyelesaikan
tulisan yang akan diikutsertakan dalam lomba. Sebelum memutuskan untuk
menindaklanjuti hobiku ini, dulu hanya terbesit ingin menjadi seorang pegawai
negeri saja. Pemikiran sempit anak desa memang seperti itu. Tidak ada tantangan
yang ingin dihadapi, posisi aman sudah menjadi hal yang bisa dijumpai di desa-desa
kecil seperti didesa. Sejenak, ku rebahkan badan. Memandang kamar-kamar langit.
Membayangkan bahwa esok masalah yang kuhadapi sudah berakhir. Aku mendapatkan
pekerjaan yang bagus dan menyenangkan, lulus dengan nilai yang baik, urusan
organisasi bisa dipertanggung jawabkan dan masalah keluarga bisa selesai. Tidak
ada lagi kepala uring-uringan setiap malam, tidak ada lagi perempuan yang
sedang menangis dibalik tirai berwarna biru dan tidak ada perempuan yang masih
sibuk dengan setumpuk tugas demi mendapatkan rupiah yang tak seberapa.
Ku pejamkan mata pelan-pelan, ada ibu,
bapak, ada kertas dan ada kerumunan orang berlalu lalang. Tuhan … kapan semua
ini berakhir.
Pukul 07:25
Aku tersadar seketika jam beker sudah menunjukan pukul 07:45.
Seharusnya pukul 08:00 ini aku sudah berada di Galeri Pameran. Ada beberapa
artikel yang harus ku selesaikan. Ketika membuka HP, sudah ada 34 panggilan tak
terjawab dari ketua kelompok. Dengan sesegera mungkin aku mempersiapkan diri.
Mandi bukan solusi yang baik sekarang ini. Buku catatan, pulpen sangat penting.
Ku putuskan untuk mencuci muka pagi ini. Sadar bahwa hari ini dipercaya untuk
memimpin dalam meliput berita. Penantian selama 1 tahun ini tidak boleh aku
sia-siakan. Ku ambil jaket yang menyampai di balik pintu, berlari tak karuan.
Menabrak Dinda yang sedang berdiri diambang pintu. Melihat keanehanku.
“Gak ada yang nyuruh buat tidur jam 4
kan Num, gini nih jadinya. Riweuh pagi-pagi” gerutu Dinda yang sudah tahu
kebiasaanku sehari-hari. 3 bulan terakhir ini aku memang tidur pukul 4 pagi,
semuanya itu ada alasannya. Selain tugas kuliah yang menumpuk, aku juga harus
menyelesaikan pekerjaanku sebagai editor disalah satu majalah.
“kalau gak tidur jam 4, kamu mau biayain
hidupku, lunasin hutang ibu bapak ku di diesa Din, ngelucu kamu ini pagi-pagi”
gumamku terkekeh.
“tapi gak segitunya Hanum, lusa kita UAS
lho num. kamu masih sibuk aja. Pulang pukul 23.00, ngerjain tugas kuliah,
ngerjain ini itu sampai jam 4, jam 8 harus kuliah. Gak cape? Gak kasihan sama
tuh badan kaya ikan asin” celutuknya lagi. Aku memandangnya sambil tersenyum
sembari membetulkan tali sepatu yang nampaknya sudah ingin diganti.
“Kalau aku boleh minta sama Tuhan, aku
pengen hidup normal diusia mudaku. Tidur dan bangun tepat waktu, tidak merasa
dikejar waktu pula. Jadi perempuan anggun sepertimu Din, dikagumi semua orang,
disukai semua orang dan selalu jadi perhatian orang. Dan …” gumamku lirih
sambil memandanya dengan serius. Dinda terpaku saat aku memandangnya, matanya
mulai berkaca-kaca, gadis cengeng itu memang mellow sekali.
“dan aku tambah telat gara-gara kamu
gadis cengeng Dinda!” ucapku dengan sedikit bercanda dan berlari karena takut
akan dijambak rambut dan diteriaki sekencang mungkin.
“Hanuuummmm, awas yah. Aku udah cengeng
gini. Gak pernah serius, gak pernah peduli. Pura-pura cuek, benciiiii!”
teriaknya.
Sementara aku terus berlari mengejar
waktu. Sekarang tinggal 5 menit yang aku punya. Segera mungkin ku teriaki
tukang ojek disamping kosan. Abang ojek sudah mengerti situasi genting seperti
ini. Sambil tersenyum dia menyodorkan helm dan langsung pergi ke tempat yang ku
tuju. Ku rasa 7 menit lah aku sampai. 2 menit tidak menjadi masalah untuk
telat.
Ditengah perjalanan, masing
terngiang-ngiang ucapan Dinda barusan.
“Iya Din, bener kata kamu. Hanum gak
pernah serius, Hanum gak pernah peduli sama tubuhnya, Hanum sok kuat” Gumamku
dalam hati. Mataku kini berkaca-kaca, ucapan Dinda barusan membuatku sedih.
“Hanum yang dikenal orang-orang memang
terlihat tangguh, tapi aku tidak sekuat itu Dinda. Hanum tetap perempuan yang
sukanya cengeng kaya kamu. Cuma, ya sudahlah perempuan ini tidak diciptakan
untuk seperti itu, Hanum sosok yang kuat !!” lirihku sok kuat.
**
Komentar
Lu kerja jadi editor may??? wahhh keren atuh :p