Status Agama di KTP
Malam ini, gue ingin
mengutip tulisan salah satu orang yaitu tulisannya Ustad Felix Siauw. Kurang
lebih seperti ini, “... Tak mungkin bagi manusia untuk sama dalam semua hal,
yang sejak awal saja sudah beda fisik dan penampakan diri. Perbedaan adalah sunnatullah
dan wajar. Bahkan mengayakan dan indah. Untungnya islam punya mekanisme hingga
beda itu bisa dirajut temali ukhuwah, walau tak sama dalam garis namun ada
titik-titik temu yang tak bakal berubah bagi mereka yang mengasihi karena
Allah”.
Yap!! Gue pernah
ngobrolin hal konyol dengan seseorang. Dimana kita memperdebatkan perbedaan
yang tengah booming pada saat itu. Orang berbondong-bondong saling menyerang di
sosial media. Yang tak kenalpun bisa menjadi musuh. Semuanya bilang “gue lah
yang paling benar”. Lantas gue jadi mikir, apa iya gue yang terlalu bodoh untuk
sekedar menyaksikan hal konyol yang ada di negeri ini? Atau memang gue yang ketinggalan
jaman untuk bisa ikut campur membahas hal yang sangat sensitif di negeri ini.
Yang dengan mudah rakyatnya bisa tersulut emosi dengan kabar yang belum tentu
kebenarannya. Yang disentil sedikit dengan isu SARA mereka mendadak jadi orang
yang sangat bijak dan sangat tinggi ilmu pengetahuaanya.
Puncak yang sangat
menjelkelkan itu adalah saat ada salah satu teman yang memaksa gue buat pasang
Foto Profil di sosmed dengan mendukung orasinya dan mengancam jika tidak
memasang berarti beliau meragukan status agama gue di KTP. Lah? Terserah lah
beliau mau meragukan, beliau siapa sih? Tuhan gue? Ngapain coba gue meski dapetin
pengakuan tentang agama gue dari manusia? Ngapaian coba gue uring-uringan ikut
sana ikut sini biar terlihat gue itu mayoritas pembela agama gue sendiri. Kalau
misal itu salah gimana ? kan ilmu gue masih dangkal, terus harus gitu gue
ikut-ikutan kata orang aja tanpa ada alasan yang kuat. Tanpa ada dasar yang
jelas. Gampangan banget dong kalau gitu gue ini, ngapain gue cape-cape belajar,
ngapain coba gue cape-cape nuntut ilmu kalau ujungnya gue cuma ngikutin kata
orang. Salah kalau gue mau tabayyun dulu, salah kalau gue gak ikut? Salah kalau
gue yang masih fakir ilmu ini lebih memilih untuk mencari tahu atau justru
malah memilih untuk pasif. Dan salah kalau gue lebih memilih ngurusin ibadah
gue yang masih acak-acakan ini. Terus nanti mereka mau gak nanggung dosa-dosa
gue ini, duh jauh banget sih ngomong lo mey, iya jauh banget karena gue kesel.
Kesel kalau mereka bisa mengudge orang hanya karena mereka memilih jalan yang
beda!!
Dengan takut azab,
dengan gue takut dosa dan dengan gue takut dilaknat apakah itu tak cukup menjadi
bukti bahwa gue itu seorang hamba yang percaya akan Tuhan yang Esa yaitu Allah
SWT. Apakah dengan gue yang lebih memilih mementingkan yang wajib dan memilih
belajar lebih lagi tentang agama gue, tak cukup juga membuktikan bahwa begitu
cintanya gue ke Allah sebagai seorang hamba. Apa ukuran bahwa gue berislam atau
tidak cukup dilihat dari status di KTP atau dengan ikutan aksi-aksi. SALAH! Lo
salah ngomong gini Mey! Lo ngapain coba emosi gini. Lo tuh gak butuh pembelaan
manusia. Mereka gak akan nolong lo kok diakhirat nanti. Yang nolong lo kan diri
lo sendiri Mey. Hmmm itu batin gue yang lagi ngomong HAHAHA apasih gak jelas
banget gue ini.
Haah intinya, buat teman gue yang
tengah marah dan ngediemin gue, sorry buat keegosian gue ini. Sorry, temen lo
yang satu ini memang sangat keras kepala. Apa-apa itu harus jelas dan puguh
kata orang sunda mah. Buat gue, Allah itu menciptakan manusia diberi tugas
masing-masing, diberi sebuah pilihan bahkan kebingungan sekalipun. Dengan
segala cara dan ragamnya semua menuju Allah. Sekalipun kita beda, tujuan kita
tetap sama, Allah dan Allah. Biar gue aja yang fokus belajar, biar gue aja yang
terlihat kuno, biar gue aja yang flat nya, gapapa. Gue kutip ulang yang ditulis Ustad Felix Siauw diatas " .... walau tak sama dalam garis namun ada
titik-titik temu yang tak bakal berubah bagi mereka yang mengasihi karena
Allah" Gue gak marah, cuma kadang
kesel aja, lo maksa gue melakukan hal yang gak gue suka. Kita seperti baru
kenal satu hari.
Komentar