Ku Temukan Tulang Rusuk itu Lewat Ayah


         Siang sungguh terik, aku melangkah santai menyusuri jalan pahlawan sambil sesekali membersihkan keringat yang membasahi keningku. Ketika hendak memasuki perkarangan rumah, aku mendengar ada seseorang yang memanggil namaku. Aku menoleh mencari asal suara, dan tersenyum ke arah Zakia yang berjalan tergopoh-gopoh ke arahku.
“Mbak Bapak masuk ke rumah sakit tadi mendadak pingsan,” terang Zakia.
“Kalau begitu aku akan segera menyusulnya,” gumamku yang mendadak galau dan perasaan yang menyesakan dada. Aku mencoba menenangkan perasaan hati dengan berserah diri kepada Allah swt. Dan tidak lupa melantunkan do’a dalam hati sambil terus berdzikir.

          Memang akhir-akhir ini kesehatan Ayah mulai menurun, penyakit jantung yang telah di derita sejak lama mulai menyerangnya lagi. Tidak lama kemudian aku tiba di ruangan Ayah. Wajahnya pucat namun mencoba kuat di depan ku.

“Ayah bandel!” kataku sambil memijit kakinya. “ Afifa kan udah bilang, Ayah harus banyak istirahat. Pesantrenkan sudah ada yang mengurus Yah.” Ayah tersenyum. Lelaki itu yang sebagian rambutnya telah memutih menatap lurus. Menatap wajah cantik putri semata wayangnya ini. Ayah meraih jari jemariku, Ayah meminta agar aku duduk di sampingnya. Katanya,”  Siapa yang akan mengurus pesantren sepeninggal Ayah,” tatap Ayah serius.

          Lagi-lagi masalah menikah, entahlah aku belum menemukan sosok yang tepat. Jauh-jauh hari Ayah telah menjodohkan dengan beberapa orang yang di nilainya cocok buat menjadi suamiku nanti dan tentu cocok sebagai penerus pemimpin pesantren menggantikan Ayah. Aku menundukan wajah, tidak sanggup membalas tatapan Ayah, tidak tahu harus menjawab apa. Memang Ayah sudah rindu melihat anak semata wayangnya ini menikah. Hatiku belum terpanggil ke dalam masalah itu. Tak peduli sekarang usiaku sudah 28 tahun. Aku terlalu asyik sebagai penulis novel dan lebih suka mengurus pesantren ketimbang hal-hal yang berbau dengan menikah.

“ Ayah .” panggilku pelan. “ Afifa mengerti Yah, tapi sampai saat ini Afifa belum menemukan sosok yang tepat buat Afifa, lagian Afifa belum siap.” Lanjutku.
“ laki-laki seperti apa yang kamu cari? Apa kamu tidak kasihan bila Ayah harus menunggu kesiapan dari kamu. Waktu ayah tidak banyak.” Sahutnya . kedua bola matanya bercahaya menampakan harapan yang begitu luar biasa.

          Aku menghela nafas pelan. Aku sadar, usia Ayah memang tidak muda lagi. Kebanggaanku padanya tidak pernah habis, kadang merasa berdosa jika Ayah mencoba menjodohkanku, aku selalu menentangnya, selalu mencoba mencari sebuah alasan untuk menolak perjodohan itu. Maafkan aku Yah,ini hanyalah masalah waktu, aku yakin Ayah lah yang nanti akan menjadi wali nikahku.
                                                          ***
          Hari ini lagi-lagi aku harus menolak lamaran dari Azka. Sudah lima orang laki-laki yang aku tolak dengan berbagai macam alasan. Dan Azka, aku menolaknya karena memang saat ini aku sedang fokus pada kesehatan Ayah. Hampir satu minggu ini kondisinya semakin kritis. Tak banyak yang di katakana dokter kepadaku, hanya pesan do’a yang selalu di minta.
“ Dok, Ayah saya bisa sembuh bukan?” tanyaku pada seorang dokter yang merawat Ayah
Dokter itu tersenyum, “ kok, berbicara seperti itu. Kita sudah memberikan pengobatan yang paling baik. Dan sekarang tinggal minta kesembuhan padanya” ucapnya sambil berlalu meninggalkanku. Perkataan dokter tadi memang benar, aku harus berdo’a meminta kesembuhan darinya. Kebetulan pada saat itu adzan magrib berkumandang, sesegera mungkin aku menuju mushala. Tapi langkah ku berhenti ketika Azka berdiri tepat di depan mushala. Dia melemparkan senyum padaku, yang memaksaku untuk tersenyum pula padanya.

          Seusai shalat, aku kembali ke ruangan Ayah dengan langkah terburu-buru. Aku tidak ingin bertemu langsung dengan Azka, bukan maksud tidak ingin bertemu dengannya tapi tidak tahu apa yang harus ku katakan padanya setelah aku menolak lamarannya.

          Tiba di sana, Ayah terbaring tidak berdaya. Hanya mampu memandangnya tanpa sedikitpun bisa membantunya. Aku mengambil tas yang berada di meja tepat di samping tempat tidur Ayah. Selembar kertas berwarna biru muda tak sengaja aku jatuhkan. Aku mulai membaca surat itu.

            Untukmu ikwafillah …
            Ujian Allah itu indah
            Kadang dengan kesusahan agar mereka mau bersabar
            Bersyukurlah dengan apa yang Allah gariskan
            Karena dalam ujian itu terdapat kebahagiaan
           
Aku tak tahu pasti siapa yang menulis serangkain kata indah itu yang di peruntukan untuk ku. Hanya bisa tertegun , mungkinkah itu Azka tapi tidak mungkin karena sebelumnya aku berangkat ke mushala jelas-jelas Azka sudah terlebih dahulu berada di mushala dan terakhirpun aku lebih cepat datang di ruangan Ayah.
                                                            ***

Rabb … jagalah saudara ku ini dalam setiap lelahnya
Jadikan keringatnya sebagai pengorbanan merawat Ayahnya
Lindungi ia
Dan jadikan airmatanya sebagai awal dari kebahagiaan
Ridhoi setiap langkahmya agar dapat ku lihat senyum bahagia di wajahnya
Ya rabb… jadikanlah kami saudara yang saling menyayangi karenamu

Ini adalah surat kedua setelah kejadian kemarin. Dan pikiranku terasa sangat penuh sehingga aku masih sulit tidur. Rasanya tidak akan pernah ku lupa serangkaian kata-kata dan paraf tanda tangan itu selama hidupku. Bahkan aku bertekad untuk selalu mencari tahu siapa yang melakukannya. Karena adanya kejadian itu membuat hatiku resah.
Ku cium Al- Qur’an yang bersampul hitam, lalu ku simpan kembali ke tas, namun sepucuk surta jatuh dari Al-Qur’an. Tanganku bergetar hebat begitupun dengan hatiku, mungkinkah aku sudah terpikat dengan serangkain kata itu.

Aku rindu menikah ukthi yang sholihah benarkah ini??
Dulu , roman-roman untuk menikah masih jauh dari mataku
Allah pasti tahu yang terbaik bagi umatnya
Mungkin kita belum menemukan siapa pemilik tulang rusuk ini
Karena dia ingin memperbaiki diri
Tapi kini…
Telah ku temukan sosok itu
Dan ku harap itu dirimu

Ada rasa tidak percaya dan rasa curiga. Siapa pemilik kata-kata ini, benarkah ini isi hatinya, ya allah kenapa tiba-tiba perasaanku ingin sekali tahu orang ini. Kenapa sekarang hatiku tergoyah begitu saja hanya karena kata-kata yang tidak jelas pengirimnya. Kenapa juga terbesit rasa rindu menikah seperti yang orang ini sampaikan kepadaku.
Seketika itu, suster datang . ia menyuruhku untuk pergi ke apotek di luar rumah sakit untuk menebus obat yang kebetulan terbatas. Tiba di apotek aku langsung membaca obat yang harus di tebus sebelum memberikan selembar kertas itu dari pihak rumah sakit. Tapi rasanya aku kenal dengan tanda tangan ini, secepat mungkin aku ambil kertas yang berisi kata-kata yang selalu ku simpan dan mencocokan dengan paraf tersebut. Subhanallah , bagaimana aku bisa lupa, ini adalah paraf yang sama! Paraf yang selama ini ku cari-cari karena telah meresahkan hatiku.
                                                ***
Ayah tersenyum ketika aku tiba di sana, di susul senyum dokter Fahmi yang ternyata pengirim surat itu. Aku dan dokter Fahmi tidak sengaja bertatap, lalu dia mengembangkan senyum .matanya berbinar indah, indah sekali. Namun segera mungkin ku tundukan wajahku dan menghindari senyumnya yang membuat hatiku tidak karuan di buatnya.
“ Maukah ukthi menerima lamaranku dan menjadi tulang rusuk ku yang ku cari selama ini, sekarang juga tepat di depan Ayah ukthi.”
Aku menelan ludah tidak percaya, membasahi kerongkongan yang mendadak terasa kering. Ada rasa haru timbul, semua terasa menyesakan dada. Menimbulkan air mata ini terjatuh,ya Allah mungkinkah dia jodohku? jodoh yang sekian lama ku nanti. Mungkinkah benar ucapannya bahwa akulah tulang rusuk yang di berikan olehmu padanya? Mungkinkah ini jawaban atas do’a-do’a yang selama ini ku panjatkan?. Jika memang benar, mantapkanlah hatiku untuk bisa menerimanya walau kami belum mengenal satu sama lain. Tapi aku percaya jika dia bisa menjadi imam yang baik untukku .
                                                ***
Aku menatap lekat-lekat foto pernikahanku. Aku terus menatap keberadaan Ayah, keinginan Ayah dulu , yang ingin menjadi wali nikah langsung putrinya ini telah tercapai walau sekarang Ayah tidak ada di dunia ini meninggalkanku bersama Fahmi. Dan aku baru tahu jika jauh-jauh hari Ayah dan suamiku sudah saling mengenal semenjak di rumah sakit, Ayahpun berharap kalau Fahmi lah yang menjadi suamiku. Lagi-lagi harapan itu terkabul, Fahmi benar-benar menjadi suamiku.
Tiba-tiba, Fahmi sudah berada di belakang tubuhku dan memeluk erat,
“ Insya Allah , aku akan selalu mencintai bidadariku ini untuk selamanya.” Ucapnya lirih. Aku tersenyum dan berbalik menatapnya, satu kecupan manis mendarat di keningku lalu di raihnya tanganku dan di tempelkan tanganku ini di pipinya. Sementara aku langsung memeluk tubuhnya sangat erat dan tak henti-hentinya bersyukur karena telah mengirimkan Fahmi dalam hidupku.




SELESAI
Cerpen SMA "Lomba Pertama"

Komentar

Postingan Populer