Value

Setelah hampir (6) tahun mondar mandir di dunia per-sosmedan akhirnya gue punya banyak sekali catatan yang seharusnya gue jadiin prinsip hidup mulai sekarang.

***
Semakin hari kemajuan teknologi mau tidak mau membuat seseorang harus gerak cepat mengikuti alur cerita yang sudah direncanakan oleh manusia-manusia pintar di sebrang sana. Harus jadi yang fleksible untuk apapun yang sedang dan akan muncul di permukaan. Harus jadi yang up to date untuk hal apapun agar enggak dibilang "ketinggalan jaman" alias jadul. Sehingga munculah kata-kata yang sekarang gak sekedar hadir untuk anak muda pada umumnya melainkan meluas pada anak kecil bahkan orang tua sekalipun, bahwa menjadi 'kekinian' itu sangat diperlukan.

Lahirnya media sosial menjadikan pola perilaku masyarakat mengalami pergeseran baik budaya, etika dan norma yang ada. Para pengguna dengan mudah berpartisipasi, berbagi dan menciptakan apapun sebagai bentuk aktualisasi dari tuajuannya bersosial media. Yang karena kehadirannya kita bisa merasakan manfaat dari sosial media seperti informasi yang bisa diakses dengan cepat dan mudah, terlepas dari akurat atau enggaknya, tak peduli isinya hoax atau fakta sesungguhnya. Yang karena kehadirannya juga media sosial dijadikan tempat bertransaksi jual beli, tempat saling berbagi, tempat mengeksprisikan diri, tempat mendebatkan berbagai argumentasi dan tempat saling melempar benci. Ya, media sosial telah merubah segalanya begitu drastis.

Rasanya kalau mau diceritakan lebih jauh tentang sosial media gak bakal ada akhirnya. Bagi gue media sosial setidaknya telah meringankan beban perasaan yang gue rasaian. Gue bisa kapanpun dan dimanapun mengekspresikan apapun yang gue rasain pada saat itu. Lantas ternyata bukan hanya gue, semua merebak begitu cepat. Yang parahnya sekarang kehidupan siapapun bisa kita lihat hanya disosial medianya. Kita gak perlu seperti jaman dulu, yang saling mengakrabkan diri dengan bertatap langsung, berteman dan menjadi teman baik untuk satu sama lain dengan waktu yang panjang. Tapi sekarang, kita gak perlu bertatap muka langsung, kita hanya perlu Handphone yang dengan mudah bisa jadi teman dekat begitu cepat. Bisa tahu dunia dan isinya hanya dari apa yang  dilihat dari layar Handphone.

Dan sekerang ditengah maraknya kebahagiaan yang gue rasaian, terselip kesedihan yang amat mendalam. Manakala orang berbondong-bondong dapat mengudge hidup seseorang dengan begitu mudah. Mereka lantas tak mau berfikir panjang lebar bagaimana hari-hari yang dilalui orang tersebut. Yang penting baginya:

 - Ok enak jadi dia di Instagramnya selalu upload jalan-jalan ke Luar Negeri
 - Senangnya punya kendaraan, rumah dan pakaian yang bagus, dll.
 - Barang-baranya mewah
 - Teman-temannya keren-keren
 - Banyak orang menyukainya

Hallo Guys, please ya kualitas hidup/ value orang gak bisa kita nilai hanya dari seberapa banyak likes, followers dan seseru apa hidupnya di sosial media? Bahkan kita tidak tau, keringat dan air matanya justru bisa jadi adalah teman sejati yang selalu menemaninya, hanya saja mereka tak pandai untuk mempertontonkan itu semua ke permukaan publik. Karena ukuran bahagia itu tidak melulu tentang materi melainkan ketenangan jiwa manakala kita selalu jadi orang yang pandai bersyukur. 

Kalaupun kenyataannya memang seperti apa yang disangkakan, bersyukurlah karena kita tengah diberi kesempatan untuk tetap belajar sabar, belajar berprasangka baik dan belajar untuk ikhlas. Karena dari awal Allah telah berkata
“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)

Dan yaa ... sejak saat ini, bagi gue apapun yang orang bagi disosial media itu hak nya dalam mengekspresikan diri. Entah kebahagiaan atau kesedihan, gak ada role mode kehidupan yang ingin lagi gue tanam. Selebihnya, gue tak ingin menerawang lebih jauh dengan apa yang tampak di sosial medianya, apalagi dengan mudah gue memberikan penilaian tentang hidupya yang "baik atau buruk". Apapun yang ada didalamnya, tak ada yang salah manakala kita bisa mengambil  pelajaran hidup yang mungkin tak kita dapat selama mengenyam bangku pendidikan.   
Salam rindu serindu-rindunya dari gue, Maya .

Komentar

Postingan Populer