Dilan, Gak Jadi
Suatu hari gue pernah bertanya sama Tuhan.
"Ya Allah, seberapa banyak lagi hamba harus jatuh dilubang yang sama atas kesalahan yang hamba ciptakan sendiri"
Gue terhenyak. Manakala sederetan masalah tiba-tiba muncul di otak gue ini, rentetan peristiwa yang gue alami bikin gue harus banyak intropeksi diri. Iya, ada banyak konflik tentang rasa yang ada pada diri gue. Kemarahan, kecemburuan, kekhawatiran, kekesalan selalu mampir silih berganti. Tiba-tiba mulut gue tergerak buat sekedar mencurahkan perasaan ke salah satu sahabat yang selalu bisa menjadi pendengar yang begitu baik, tanpa maksud untuk tidak mendapat pembenaran, pembelaan ataupun nasehat sama sekali.
"Karena yang menyakitkan itu saat kita kehilangan sesuatu yang sama sekali belum kita miliki" gumam gue sambil menutup buku bacaan yang sedang gue pegang.
Sahabat gue bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju salah satu rak buku, kemudian beliau berkata.
"Waktu yang belum tepat dan lo yang belum siap, come on ... Move on lah dari masa jahiliyah elo" jawabnya sambil menatap wajah gue begitu dalam.
Gue tersenyum sinis, sesekali mengalihkan wajah menatap orang yang berlalu lalang menelisik beberapa buku.
"Kapan nonton Dilan?" tanya gue polos.
Temen gue mendengus pergi meninggalkan gue yang aneh ini tanpa sepatah katapun. Hehe, gue pun bangkit dan berjalan mengikutinya.
"Namanya fitrah itu tetap fitrah. Namanya manusia itu tetap manusia, apalagi namanya perempuan, yang hatinya lunak sekali. Bukan bermaksud menyimpan begitu rapih untuk kenangan-kenangan, bukan bermaksud tak ingin beranjak pergi dari kehilangan, dan bukan berarti tak ingin belajar dari kegagalan. Melainkan ada jalan yang berantakan oleh sampah, yang dibersihkannya gak bisa sekali sapu melainkan ada jeda untuk bisa dilihat begitu indah."
Gumamku sambil merangkul tangannya dan saling menatap dan melempar senyum.
"Karena sejatinya gak ada yang perlu kita miliki. Semua bukan milik seorang makhluk bernama manusia. Berbahagialah nanti, dengan hidup yg lo inginkan, dengan pemimpin yang lo rindukan. Tetap jadi perempuan cerewet yang aku kenal. Yang keras kepalanya bikin ngangenin. Semoga bisa menjadi teman yang saling menyelamatkan di dunia maupun diakhirat" ungakpnya dengan gaya seperti biasa (kalau lagi ngomong serius, selalu aja bagian tubuhnya nunjukin kesibukan, karena gak mau terlihat serius kalau udah ngomongin yang serius)
"jadi kapan nonton Dilan" rengek gue.
"gak usah ke Bioskop sayang duit. Di youtube udah ada tuh"
Pttttt ujungnya gitu. Jauh-jauh ke Cirebon niat nonton jadi cuma makan burger dong.
Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf bila ada kesamaan tempat, nama dll.
By
maye
Komentar