Pengakuan
Pasirayu, 20 Februari 2017
Rasanya untuk gue cerita panjang lebarpun semua tahu bahwa gue orang yang tengah dilanda kegalauan yang amat besar akan sebuah pekerjaan. Kalau orang masih galau mau ngelamar kerja dimana, nah kalau gue galau gimana bertahan dan mempertahankan diri buat betah pada kerjaan gue kali ini. Jika dulu yang bikin gak betah adalah teman satu kantor yang menurut versi gue judesnya gak ketulungan, tapi sekarang hal yang gue takutkan dan khawatirkan sudah menghilang dengan rasa nyaman. Ternyata doi gak seserem yang gue pikirin. Saat hati gue meleleh buat ngalah, buat mau mulai duluan, buat tetap terlihat baik-baik saja didepannya, semuanya perlahan mulai membaik. Yang tak bersapa kini mulai mau menyapa, yang tak sedikitpun tidak mau mengulurkan tangan, kini dengan senyumnya doi ngulurin tangan duluan buat salam. Yang tadinya basa-basi kini kita akrab ngobrol ngaler ngidul.
Namun disisi lain, gue mulai tahu karakter orang-orang dilingkungan gue. Ada banyak pemakluman yang benar-benar harus gue pelihara, gue ngerti juga pahami. Meski kadang sebagian orang mempertanyakan keputusan gue yang masih nampak flat dengan kondisi sesungguhnya. Husnudzon gue "Orang punya cara sendiri untuk bisa disiplin dalam sebuah kerjaan". Ya, gue gak bisa seberontak dengan diri gue yang asli. Gue masih bisa nerima untuk kesalahan-kesalahan yang dibuatnya meski gue merasa itu bukan hasil kerjaan gue. Gue masih bisa nerima untuk masukan-masukan kebaikan yang ditolak mentah-mentah sama beliau, gue masih nerima bahwa hasil kerja keras gue yang kerja sendirian diklaim itu hasil kerjanya, gue juga masih nerima saat gue dijadiin kambing hitam untuk setiap kesalahan yang beliau buat dan gue cuma bisa menggagukan kepala dan bilang 'iya' sebatas mencari aman. Tak lebih gue sangat sadar bahwa gue cuma seorang bawahan yang tak sedikitpun punya power. Lama-lama gue cuma mikir, oke gue bakal bisa nguasain kerjaan ini karena gue gak disuapin sama atasan, gue harus bisa nyari sendiri landasan teori itu, gue harus banyak nanya kesana kemari, gue dituntut harus selalu bisa untuk apapun demi memuaskan keinginan atasan. Meski gue merasa, gue seperti dikurung disebuah ruangan. Tanpa tahu maksdunya apa, benar-benar butiran debu dah.
Suatu hari, ada orang penting yang memastikan kalau kerjaan itu adalah hasil kerjaan gue sendirian. Dan itu kali pertama ada orang yang mengakui hasil kerja keras gue siang malam. Ada orang yang benar-benar paham posisi gue. Pengakuan itu benar-benar menjadi power buat gue. Kalau dulu gue merasa gak punya power sedikitpun, sekarang gue nambah PD. Ditambah ada lagi orang yang juga mengakui hasil kerja gue, dua-duanya adalah orang penting bagi gue. Semenjak itu gue malah tambah sadar, oh ternyata ini maksud Allah. Gue harus ngejalanin apapun yang ada dihadapan gue, gak peduli cape, kesel, marah, gak adil, dan sendirian, yang pasti Allah gak tidur. Gue gak perlu memamerkan dan berkoar-koar hasil kerja gue, toh orang akan tahu pada saatnya dan mengakui hasil kerja keras gue selama beberapa minggu ini. Gue gak perlu membanggakan diri didepan khalayak hanya untuk mendapat ucapan pujian, toh Allah yang akan menggerakan hati orang dan menunjukan kebenaran.
Iya, terkadang ada hal sepele yang diabaikan oleh orang. Bukan hadiah berbentuk uang, bukan pula penghargaan melainkan pengakuan. Itu reward yang kadang dilupakan. Nampaknya sepele, tapi tanpa disadari orang lupa bagian ini
Semenjak pengakuan tersebut, gue jadi termotivasi untuk terus bekerja keras, untuk terus mau belajar baik dari kesalahan yang gue ciptakan atau orang lain ciptakan. Baik dari bertemu dan dari obrolan-obrolan asik yang bikin gue nambah bersemangat untuk terus maju. Karena gue selalu percaya bahwa Allah itu selalu melihat hambanya, melihat proses yang dijalaninya. Kedepan, gue gak mau jadi orang penakut lagi. Penakut karena gue bukan anak pejabat, penakut karena keluarga gue biasa aja, penakut karena gue gak punya orang yang bisa memback up dibelakang gue ini, enggak! Itu enggak berlaku lagi saat ini. Gue akan terus berproses, menemukan apapun yang gue cari selama ini. Mendapatkan apa yang gue mau tanpa banyak campur tangan manusia. Gue cukup percaya dan yakin ke Allah, karena campur tanganNya benar-benar Maha Dasyat. Buat siapapun, please gak usah gengsi buat sekedar mengakui hasil kerja keras orang! Gak seberapa tapi tak bisa dibeli dengan sebuah angka.
Komentar