Aku Ingin Menikah

Buat aku empat tahun itu bukanlah waktu yang sangat sebentar untuk sekedar bisa bangkit dari rasa kecewa. Teman-teman selalu bilang bahwa aku lah pemegang perempuan terkuat selama perkuliahan dibidang asmara. Nyatanya tidak seperti itu. Aku lah orang terlemah yang tidak bisa aku tunjukan kesiapapun, kecuali ke tempat tidur dan Allah pastinya. Pelajaran yang bisa aku ambil dari empat tahun itu adalah bahwa kita tidak bisa memaksakan apapun yang kita mau, sekeras apapun kamu berusaha kalau bukan takdirnya ya gak akan bersama. Udah, simple. 
Satu hal yang pasti, ada begitu banyak ketakutan yang sampai sekarang tersimpan begitu rapih dan aku belum bisa membuangnya sama sekali. Dan itu benar-benar sangat menakutkan. Aku takut ada orang yang berbondong-bondong datang atas nama Allah, kemudian pergi atas nama orang lain lagi. 
Aku tahu ada banyak kekhawatiran yang memenuhi hati kedua orangtuaku. Mereka ingin melihatku menikah. Dan aku akan selalu tahu, kekhawatiran itu akan selalu ada sampai aku berumah tangga sekalipun atau bahkan sampai aku memiliki keturunan. Akupun ingin menikah, Tuhan. Tapi bukan berarti aku harus tergesa-gesa agar segera menikah. Bagi ku menikah itu bukan perkara dia siap datang ke rumah menemui wali ku. Melainkan dia siap membangun rumah tangga di dunia maupun akhirat. Dia mau menjadi imam baik didunia maupun diakhirat. Yang kedatangannya tidak banyak menawarkan hidup dengan banyak kemewahan, melainkan menawarkan sejuta kesederhanaan untuk selalu mencari ridho dariNya bareng-bareng. 
Aku ingin menikah Tuhan. Tapi bukan berarti sekedar aku sayang dia dan dia sayang aku. Itu tak cukup. Karena menikah bagiku bukan perihal aku dan dia, melainkan tentang bagaimana dia bisa mencintaiku karenaMu dan aku mencintainya karenaMu. 
Aku ingin menikah Tuhan, tapi bukan berarti pernikahan ini untuk kebahagiaan kami berdua saja, melainkan ada begitu banyak senyum, tawa dan kebahagiaan yang dirasakan oleh kedua belah pihak keluarga. Yang menyatunya aku dan dia, berarti menyatunya pula dua keluarga. 
Aku ingin menikah Tuhan. Membangun keluarga akademisi pula agar kelak bisa melahirkan putra-putri yang akan berjuang dengan dakwahnya, yang kelak akan menyelamatkan orangtuanya dari api neraka, yang kelak bisa jadi sosok yang bermanfaat akan hadirnya mereka sebagai makhluk bernama manusia. 
Tuhan, do'a ku memang selalu panjang lebar. Meskipun malu, tapi engkaulah pemilik hati dan jiwa ini. Maka jika memang sudah waktunya tepat, sudah saatnya siap, kirimkanlah seorang suami yang mencintaiku karenaMu dan aku mencintanya karenaMu pula, yang dengan kehadirannya menjadi ladang pahala dan jalan untuk meraih surga, yang kelak kita akan sama-sama belajar dan bersama menuju sakinah, mawaddah warahmah. 
Tuhan, jikapun belum saatnya untuk menggenap, sederhanakanlah lagi perasaan hamba. Jadikan hamba perempuan yang selalu sadar akan kecilnya hamba dihadapan engkau. Jangan jadikan hamba sibuk memikirkan kebaperan yang tak berujung, jangan biarkan hamba berlarut-larut terlena dengan kata jodoh, karena pada dasarnya hamba adalah ciptaan engkau yang diperintahkan untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang makhluk yaitu menjalani perintahNya dan menjauhi laranganNya. 
Tuhan, buat diriku dan dirinya bahagia.   

Komentar