Different
Setiap hari kenapa kadar "pemakluman" manusia itu semakin parah. Rasanya menjaga perasaan orang mudah dikesampingkan untuk pemuasan atas celotehan dan pertanyaan yang tidak bertanggung jawab. Sebelumnya gue pernah bahas ini di tulisan yang lalu, cuma sekarang masalahnya lebih mendetail lagi dan udah masuk ke hal-hal yang semestinya gak kita celotehkan.
Hari itu, saat selesai shalat ashar di Mushola kantor tiba-tiba kawan gue ngechat, sebaris pesan yang gue Bold bikin gue mengeryitkan alis nih. Katanya ...
"Kayak gini yah dibilang gak laku dan gendut "
----------------------------------------------------------------------------------
Pokoknya 5 menit setelah beliau ngechat, gue belum bisa balas apapun. Masih nyerna dan nyadari diri, ternyata pertanyaan tersebut bukan sekedar bisa gue lihat dan denger di sinetron-sinetron atau dikomenan para artis ketika diserang netijen oleh pertanyaan dan pernyataan yang sungguh gue bisa merasakan itu begitu menyakitkan. Dan sekarang, kejadian itu bener-bener bisa gue dengar dan lihat begitu dekat. Meskipun yang gue rasakan pasti berbeda dengan apa yang teman gue rasakan, setidaknya ada bentuk kecewa dan ingin marah untuk pertanyaan dan pernyataan yang gak bertanggungjawab.
Bagaimana ketika kita meski bersosialisasi dengan begitu banyak orang yang berbeda karakter, berbeda paham dan berbeda keadaan. Terlalu banyak hal-hal yang semestinya bisa kita jaga, bisa kita cerna dan bisa kita fahami bahwa setiap kali berjumpa tak semuanya bisa kita pukul ratakan sama dengan pemahaman yang ada pada diri kita ini. Yang dialami temen gue itu adalah salah satu contoh hal yang sering banget orang pertanyakan dan berujung dengan kesimpulan yang menjudge dan bikin hatinya terluka. Gue tuh bingung ketika kita meski ngerti perasaan orang, bahkan pada titik dimana orangpun seharusnya tahu porsi dirinya sendiri.
"Kapan menikah?" adalah salah satu contoh pertanyaan basa-basi. Niatnya bisa saja baik untuk mengingatkan (katanya mengklaim). Tapi bagi gue, itu tuh pertanyaan yang tidak bertanggung jawab. Sebab ini tuh bukan perihal angka dimana kita seharusnya sudah menikah dan bukan perihal fisik yang menjadi parameter orang bisa menikah. Bukankah perihal jodoh itu hanya Allah yang tahu? Kenapa gak kita ubah saja pertanyaannya menjadi "Kapan nikah? udah ada calon belum? kalau belum, saya bisa bantu nih" atau "Kapan nikah? udah ada calon belum? Bolehkah saya lamar?" hehe. Dibanding bertanya "kapan nikah? kok gak nikah-nikah, temen sepantaran udah pada nikah tuh" dan diakhiri dengan kesimpulan menjudge orang yang belum menikah karena gak laku dan gendut. Main fisik kaaaaannn?? Baik gak buat yang ditanya dan yang bertanya? Gak baik buat keduanya. Jika mau bercanda, bercandalah yang bisa membuat orang lain tertawa, jangan bercanda hanya sekedar untuk kepuasan diri saja. Karena kita tuh enggak tahu mana yang buat dia biasa saja dan mana yang buat dia setres dan depresi. Lagian kalau itu dijadikan bahan ejekan yang ada kita kan bisa dosa juga.
Meskipun begitu, kita juga meski sadar bahwa kita memang sama sebagai makhluk bernama manusia, tapi perihal yang lainnya mungkinkah sama juga? tentu tidak! Yang barusan gue jelasin panjang lebarpun tak bisa gue buat agar mereka semua bisa faham. Toh lagi-lagi kesandung dengan kata "different". Tapi gak apa-apa, gue selalu yakin bahwa Allah pasti menyisipkan hikmah dibalik itu semua.
Pesan gue saat itu sama temen, begini.
"Teh, gak apa-apa, kita kan punya Allah. Lagian perihal menghakimi tuh bukan tugas kita, biar Allah yang Maha Tahu. Kita do'akan saja yaaa. Oh ya, ada salah satu ayat Al-Qur'an yang selalu jadi pengingat dan selalu tertanam begitu kuat manakala gue lagi sedih. Ayat 45 surat Al-Baqarah, katanya 'mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat' hehe. Tariiiiiiiikkkkkkk nafas panjang dan inget mantra itu, sabar dan shalat. Sabar dan shalat. begitu"
Ya ... pada akhirnya kita akan kembali dan mengembalikan semuanya kepada yang Maha Punya Segalanya. Buat temen gue yang baik hatinya, gue do'ain semoga lekas diberi pendamping yang bisa menjaganya dan menjaga keluarganya pula. Yang menyayanginya dan menyangi keluarganya pula. Tentunya seiman dan mau berjuang sama-sama. Teh, terimakasih sudah jadi teman yang baik hatinya, baik akhlaknya. Yang ada saat yang lain tidak ada, yang tetap menerima saat yang lain entah lagi dimana. Kita gak perlu balas lagi ke orang dan bertanya "Kapan menikah?" karena kita sama-sama tahu gak enaknya dijadikan bahan candaan. Lantas ketika suatu hari nanti teteh menikahpun, kita tak perlu lagi bertanya 'kapan punya anak'. Kita sama-sama tahu kan teh?
Biarpun yang lain tetap keukeuh dengan pernyataannya dan tetap tidak bisa menempatkan dan memposisikan bahwa kita adalah manusia yang harusnya saling menghormati privasi masing-masing, gak apa-apa, kita do'akan ya teh. Do'akan yang baik-baik. Btw, jangan sedih karena gendut ... gue pun sama nih menuju gendut, udah memasuki angka 50 :'(((((((((((((((((((( kan sad teh. Dan yang bilang enggak laku, hmmmmm mereka gak tahu apa, kita tuh punya Allah Maha Besar yang punya ribuan pangeran ganteng yang tengah disiapin, nunggu datang dan ngejemput aja. Masa gak dikasih satu buat teteh. Pasti dikasihlah hehe
Teh, Rindu :))))))))
Fotonya kita berdua pada dimana sih, nemunya yang kucel-kucel. Dah ahhhh.


Komentar