Waktu
Lo tahu, kenapa gue suka banget sama Jepang? Salah satu alasannya karena mereka hidup begitu Disiplin terutama dalam menghargai waktu. Manajemen waktu yang mereka punya begitu gue kagumi. Salah satu teman gue bercerita bahwa masyarakat Jepang hidupnya terorganisir. Mereka akan sangat mematuhi jadwal. Lah kolerasi waktunya apa Mey? Yaa sangat jelas sekali karena dengan adanya jadwal, mereka dapat memanfaatkan waktu mereka semaksimal mungkin.
Meskipun gue belum pernah ke Jepang, tapi saat teman gue cerita, saat atasan gue berbagi pengalamannya di Jepang, gue jadi terkagum-kagum. Katanya dalam masalah sepele aja diperhatikan. Seperti mengantri makan, memungut sampah, pergi dan pulang kerja tepat waktu dan masih banyak hal lainnya. Rasa kagum itu bertambah besar manakala gue yang dari dulu enggak suka sama budaya "lelet" dan budaya "menunggu". Bagi gue itu sudah banyak menyita dan membuang waktu yang gue punya.
Misalnya dulu saat duduk di bangku SMA, gue sering BT sama teman karena harus menunggu beliau siap-siap untuk berangkat sekolah. Padahal beliau tahu, kita akan berangkat sekolah jam 06:00 WIB misalnya. Cuma karena keterbiasaan yang mereka punya, semuanya seolah bisa ditoleransi. Gue kira bakal nemu hal yang menuurut orang sepele ini hanya sebatas berangkat ke Sekolah, tapi ternyata tidak. Hampir disetiap kehidupan yang gue temuin, pasti budaya "lelet" itu sudah menjadi "kebiasaan" yang bisa "dimaklumi". Gue suka gondok dan suka menggerutu gak jelas "Apa mereka pikir menunggu itu enak yah? atau mereka memang gak punya kerjaan lain sehingga bisa mengulur-ngulur waktu seenaknya".
hmmm .... jadi inget saat gue marah sama teman kuliah karena terlambat datang gara-gara teman gue dengan sengaja masih tiduran di kasur padahal beliau sudah tahu 5 menit lagi harus datang untuk rapat. Gue sebelumnya udah bilang agar bisa hadir sebelum rapat dimulai. Tapi karena kebiasaan yang sudah tertanam dan pemakluman yang sudah bisa dianggap lumrah ya jadinya seselow itu dan lenbih dari 20 menit terlambat hanya karena nungguin beliau siap-siap. Berhubung bukan kejadian pertama kali dan bukan waktu yang sangat dadakan untuk hadir rapat, gue malah memutuskan jalan sendiri menuju rapat sambil masang ekspresi wajah yang judesnya level 5 kali yah wkwkwk. Dalam hati tuh bilang "Kalau mau bandingin dan ngasih alasan, toh gue juga sama perempuan. Yang mandinya lama dan siap-siapnya butuh waktu panjang. Cuma kalau kita punya tanggung jawab, kenapa gak dari jam-jam sebelumnya kita siap-siap. Bukankah kita bisa memprediksi selama apa kita dandan, selama apa kita siap-siap. Kecuali kalau misal ada alasan yang sangat mendesak dan menyebabkan kita gak bisa hadir tepat waktu.
Dan sekarang gue ada di Dunia kerja, ke-leletan yang gak gue suka malah gue temuin lagi. Bahkan ini lebih parah. Sebagai orang baru di Dunia Pemerintahan tentunya, gue pikir disiplin kerja yang mereka punya lebih terarah. Karena mereka punya waktu yang sudah terjadwal. Ya kapan harus masuk dan kapan harus pulang. Kapan mereka harus di kantor atau mereka harus di lapangan. Tapi, semuanya buyar dalam pandangan saat gue disuruh rapat disalah satu OPD besar di Majalengka. Sesuai dengan jadwal, pergilah gue ke Kantor tersebut untuk datang lebih awal dan memprediksi kehadiran gue 5 menit sebelum rapat dimulai. Dn lo tahu apa yang terjadi? tidak ada satupun orang disana bahkan panitianya sedniri. Dengan pengalaman yang sudah gue alami, pemakluman yang orang punya justru harus gue punya lagi sekarang meskipun bukan gue banget. Setengah jam berlalu panitia keluar dengan berbagai macam administrasi yang harus diisi. Selain itu, gue juga nunggu kehadiran para tamu undangan. Sampai satu jam berlalu, peserta undangan baru ada 5 orang dari 26 orang. Hah? rada kaget dan menyampaikan hal itu keatasan gue. Atasan gue bilang
"heheh, biasa itu neng. Nanti mulainya paling 10:30 WIB" pesannya kurang lebih seperti itu.
Pas baca 10:30 WIB, asli gue kagetnya pakai banget. Dan memang kejadian, mulai sekitar jam tersebut. Keterlambatan itu sampai 2:30 menit. Halloooo bapak dan ibu sehat? Ini yang namanya pelayan masyarakat? Ya ampun, gue benar-benar gak nyaman terhadap kebiasaan yang menjamur dan menjadi pemakluman yang lagi-lagi harus gue terima. HARUS!! DAN HARUS!!
Meskipun gue belum pernah ke Jepang, tapi saat teman gue cerita, saat atasan gue berbagi pengalamannya di Jepang, gue jadi terkagum-kagum. Katanya dalam masalah sepele aja diperhatikan. Seperti mengantri makan, memungut sampah, pergi dan pulang kerja tepat waktu dan masih banyak hal lainnya. Rasa kagum itu bertambah besar manakala gue yang dari dulu enggak suka sama budaya "lelet" dan budaya "menunggu". Bagi gue itu sudah banyak menyita dan membuang waktu yang gue punya.
Misalnya dulu saat duduk di bangku SMA, gue sering BT sama teman karena harus menunggu beliau siap-siap untuk berangkat sekolah. Padahal beliau tahu, kita akan berangkat sekolah jam 06:00 WIB misalnya. Cuma karena keterbiasaan yang mereka punya, semuanya seolah bisa ditoleransi. Gue kira bakal nemu hal yang menuurut orang sepele ini hanya sebatas berangkat ke Sekolah, tapi ternyata tidak. Hampir disetiap kehidupan yang gue temuin, pasti budaya "lelet" itu sudah menjadi "kebiasaan" yang bisa "dimaklumi". Gue suka gondok dan suka menggerutu gak jelas "Apa mereka pikir menunggu itu enak yah? atau mereka memang gak punya kerjaan lain sehingga bisa mengulur-ngulur waktu seenaknya".
hmmm .... jadi inget saat gue marah sama teman kuliah karena terlambat datang gara-gara teman gue dengan sengaja masih tiduran di kasur padahal beliau sudah tahu 5 menit lagi harus datang untuk rapat. Gue sebelumnya udah bilang agar bisa hadir sebelum rapat dimulai. Tapi karena kebiasaan yang sudah tertanam dan pemakluman yang sudah bisa dianggap lumrah ya jadinya seselow itu dan lenbih dari 20 menit terlambat hanya karena nungguin beliau siap-siap. Berhubung bukan kejadian pertama kali dan bukan waktu yang sangat dadakan untuk hadir rapat, gue malah memutuskan jalan sendiri menuju rapat sambil masang ekspresi wajah yang judesnya level 5 kali yah wkwkwk. Dalam hati tuh bilang "Kalau mau bandingin dan ngasih alasan, toh gue juga sama perempuan. Yang mandinya lama dan siap-siapnya butuh waktu panjang. Cuma kalau kita punya tanggung jawab, kenapa gak dari jam-jam sebelumnya kita siap-siap. Bukankah kita bisa memprediksi selama apa kita dandan, selama apa kita siap-siap. Kecuali kalau misal ada alasan yang sangat mendesak dan menyebabkan kita gak bisa hadir tepat waktu.
Dan sekarang gue ada di Dunia kerja, ke-leletan yang gak gue suka malah gue temuin lagi. Bahkan ini lebih parah. Sebagai orang baru di Dunia Pemerintahan tentunya, gue pikir disiplin kerja yang mereka punya lebih terarah. Karena mereka punya waktu yang sudah terjadwal. Ya kapan harus masuk dan kapan harus pulang. Kapan mereka harus di kantor atau mereka harus di lapangan. Tapi, semuanya buyar dalam pandangan saat gue disuruh rapat disalah satu OPD besar di Majalengka. Sesuai dengan jadwal, pergilah gue ke Kantor tersebut untuk datang lebih awal dan memprediksi kehadiran gue 5 menit sebelum rapat dimulai. Dn lo tahu apa yang terjadi? tidak ada satupun orang disana bahkan panitianya sedniri. Dengan pengalaman yang sudah gue alami, pemakluman yang orang punya justru harus gue punya lagi sekarang meskipun bukan gue banget. Setengah jam berlalu panitia keluar dengan berbagai macam administrasi yang harus diisi. Selain itu, gue juga nunggu kehadiran para tamu undangan. Sampai satu jam berlalu, peserta undangan baru ada 5 orang dari 26 orang. Hah? rada kaget dan menyampaikan hal itu keatasan gue. Atasan gue bilang
"heheh, biasa itu neng. Nanti mulainya paling 10:30 WIB" pesannya kurang lebih seperti itu.
Pas baca 10:30 WIB, asli gue kagetnya pakai banget. Dan memang kejadian, mulai sekitar jam tersebut. Keterlambatan itu sampai 2:30 menit. Halloooo bapak dan ibu sehat? Ini yang namanya pelayan masyarakat? Ya ampun, gue benar-benar gak nyaman terhadap kebiasaan yang menjamur dan menjadi pemakluman yang lagi-lagi harus gue terima. HARUS!! DAN HARUS!!
Lantas, dengan kejadian-kejadian selama ini gue cuma bisa menggerutu, dan itu gak sehat untuk badan juga fikiran. Ternyata gue sudah menghabiskan banyak energi buat kesel, BT dan marah. Ya sudahlah, dibanding gue sakit mending gue salurin lewat tulisan ini. Sampai gue cerita ke orangpun, orang bakal ngetawain dan bilang
"Duh Mey, ngapain lo musingin sesuatu yang jelas-jelas gak perlu lo pusingin, nambahin sakit aja".
pasti begitu :((
Emmm tapi menurut gue, kalau kita gak bisa merubah sesuatu yang besar kenapa kita gak nyoba buat ngerubah sesuatu yang kecil saja? Kalaupun kita masih bingung sesuatu kecil itu dimulai darimana? Kenapa gak kita mulai dari diri kita sedniri ? :( kenapaaaaaa ??
Hayu atuh belajar buat bertanggungjawab pada diri sendiri, belajar menghargai waktu. Gue juga bukan orang yang tepat banget dalam semua hal. Kadang ada telatnya, kadang ada gak tepatnya. Cuma lagi diusahain dan belajar semampu dan sebisanya. Kalau kita dah bisa menghargai diri sendiri dan waktu yang kita punya, insha allah semuanya bisa tertular dengan begitu baik. Sekalipun begitu, gue yakin keleletan yang gak gue suka tidak akan pernah berakhir, oleh karena itu gue lebih memilih memaklumi saja dan tidak menjadi pengikut si pemaklum yang orang tanam. Semoga dengan begitu ada satu, dua orang yang menyadari dan bisa sedikit demi sedikit mau merubah pola salah dan memperbaiki yang salah itu sendiri.
Komentar