11 september 2018
Allahu
akbar ... Allah yang Maha Penyayang yang sudah memberikan kesempatan gue buat
banyak mencari amal yang kelak akan gue bawa ke akhirat. Seperti puluhan tahun
yang sudah terlewat, gue habiskan waktu seperti pandangan yang menurut gue ada
baik dan ada salahnya. Dari gue kecil, keluarga gak pernah menganut kepercayaan
atau budaya ulang tahun, mungkin karena di Kampung yang merayakan ulang tahun
itu biasanya orang berada, lah keluarga gue orang biasa. Dan dulu kan perayaan
ulangtahun belum se-drama seperti saat ini dengan banyak macam acara pada
ulangtahunnya. Jadi saat beberapa teman gue mengulang tanggal lahir ditahun
berbeda saat itupula gue sudah terbiasa tanpa kue, tanpa ucapan ataupun tanpa
cahaya.
Saat
usia gue kira-kira menginjak 12 tahun, gue sempat nanya sama Bapak.
“Pak,
iya lahir hari apa ya?”
Bapak
diam sambil mikir, dengan singkat cuma jawab
“Lupa”
Semenjak
itu, gak ada harapan perayaan ulang tahun, atau harapan dikasih selamat sama
orangtua. Wong kata mereka ngapain harus ingat sama tanggal lahir, begitu. Yang penting tuh do'a bukan ucapan. Yausudahlah
... jadi tiap tanggal 11 September biasa aja.
Tapi
semua mendadak berubah, untuk pertama kalinya teman satu angkatan kuliah
memberikan kejutan ulangtahun. Cuma kue sederhana. Ya antara terharu, sedih dan
senang jadi nyampur. Seenggaknya pada hari tersebut, gue tahu mereka amat sangat
peduli sama gue. Dua tahun berikutnya juga sama. Ada hadiah, ucapan dan lilin
yang bisa gue tiup. Terlepas dari membolehkan atau men-tidak bolehkan acara
ulang tahun dipandang dari sudut agama, gue cuma memaknai semua ini sebagai
bentuk sayang, peduli, pengingat akan syukur yang mestinya terus gue genggam
kapanpun dan dimanapun serta jadi pengingat diri bahwa ada begitu banyak waktu
yang mungkin sudah banyak gue lewatkan dengan tumpukan dosa sementara dengan
bertambahnya umur artinya berkurangnya sisa gue ada di Dunia ini.
Ya
... hari ini, hari mengulang tanggal 11 September tanpa kehadiran sahabat
seperti biasanya. Tapi masih merasakan adanya mereka dengan hadiah-hadiah kecil
yang jauh dikirim dari seberang sana. Gue ucapain terimakasih, sudah mau
menyempatkan untuk mendo’akan yang terbaik juga memberi hadiah yang benar-benar
manfaat sekali untuk gue. Gue terharu, diwaktu yang gak banyak gue habiskan
bersama mereka, mereka masih sempat mau mendo’akan yang terbaik buat gue. Gue
sedih, gue sebegitu egois sama mereka karena kebanyakan lupa bahwa makna “apa
kabar?” amat begitu berharga saat kita terpisah oleh jarak.
Oh
iya ... dihari ini pula tidak ada harapan-harapan besar yang ingin gue
targetkan seperti tahun-tahun sebelumnya. Gue cuma pengen bermuhasabah diri dan
banyak bersyukur. Untuk waktu dan kesempatan yang Allah kasih ke gue.
Komentar