Salah Nge-Fans!
Dulu, gue pernah ngefans sama teman gue sendiri. Melihat sosok yang nanti suatu saat gue ingin seperti beliau. Kain yang menjulur panjang menutupi tubuhnya, ketaatan beliau dalam beribadah, ucapan beliau yang menenangkan, aktivitas beliau dalam membela agamanya, dan semua hal baik versi gue yang bikin gue semakin ngefans dan menyukainya. Tapi semuanya tiba-tiba bubar begitu saja, semuanya seolah-olah hilang dari pandangan gue dalam sekejap, fix gue enggak suka beliau lagi. Begitulah kira-kira, bentuk rasa kecewa manakala idola yang gue banggain ngasih noda dan bikin hati gue ikutan luka. Sepele sih yang bikin semuanya berubah, beliau pacaran dengan laki-laki yang bukan mahromnya, penampilannya yang tadinya syari jadi yang biasa saja. Sebenernya terserah mau pacara atau tidak toh pada waktu bersamaan pula gue juga tengah pacaran, tapi masalahnya beliau selalu bilang dan mengorasikan untuk tidak pacaran dengan yang bukan mahromnya. Beliau selalu menuntun gue dan menasehati gue. Terus dengan beliau seperti itu, sama halnya beliau menjilat ludahnya sendiri.
Sebenernya gak sampai disana, banyak sekali teman-teman yang terlihat agamis dengan label yang melekat didirinya, tapi hakikatnya tak sebanding lurus bersamaan dengan prilakunya, termasuk gue sendiri.
Sejalan dengan itu, gue banyak belajar, banyak berdiskusi, banyak sharing dengan siapapun. Gue mulai banyak mendengar juga membaca. Lambat laun kekecewaan yang menyesak dalam dada mulai mereda. Gue jadi mulai sadar, ternyata kekecewaan dan luka dihati gue itu bukan disebabkan oleh idola gue, melainkan timbul dari kesalahan gue sendiri. Seharusnya gue gak menjadikan manusia sebagai idola gue, seharusnya gue gak menggantungkan harapan ke satu sosok bernama manusia, dan seharusnya gue gak jadi yang berlebihan dalam mengaguminya pula.
Ya kesalahan itu justru timbul dari diri gue sendiri, yang egois dan dengan mudah melabeli manusia sesuka gue. Padahal kalau dipikir-pikir gak ada yang nyuruh gue ngefans sama orang tsb, bahkan orang tsb pun gak nyuruh gue ngefans ke beliau. Itulah kenapa jika ada satu kesalahan atau kekurangan yang timbul darinya, gue akan merasa kecewa. Padahalkan you know lah, manusia gak ada yang sempurna.
Semenjak itu, gue gak pernah mau ngidolain temen gue, ustad yang lagi ngetop atau siapaplah kecuali ngefans sama nabi (itu sih gak usah dijabarin lagi ya), gue juga gak mau melabeli orang kalau beliau agamis banget nih gara-gara selalu posting ceramah ustad-ustad, atau misal beliau yang berhijrah dengan penampilannya atau apapun itu yang lagi hits dijaman sekarang, oh enggak. Dan guepun gak mau melabeli diri gue yang agamis atau telah berhijrah. Gue gak suka dan ketidaksukaan itu selalu gue bilang ke orang yang menganggap gue itu lebih baik karena gue sekolahnya di pondok pesantren (santri), gue selalu meminta jangan menganggap gue baik hanya karena gue sekolah di pondok pesantren, atau karena postingan gue islami.
Gue gak mau lagi jadi orang yang nyinyirin orang karena penampilannya. Mau dia bercadar ataupun tidak, berjilbab ataupun tidak, pacaran ataupun tidak, itu hak mereka. Gue juga bukan orang yang secara penampilan yang agamis banget, toh faktanya penampilan gue biasa aja, pakai celana bukan gamis, jilbabnya juga biasa aja. Gue berteman dengan siapapun, dengan perempuan ataupun laki-laki, bebas. Gue pernah menekankan bahwa banyak orang lupa akan hakikat dirinya, dan terlalu fokus dengan syariat yang tengah dibangun. Contohnya tulisan hijrah antara agama dan trend salah satunya. Adapun gue yang gak suka sama beberapa orang dan menunjukannya itu tak lantas membuat gue gak suka semua yang ada pada dirinya. Gue memang gak bersependapat dengan argumennya, dengan aksinya, dengan orasinya, tapi bukan berarti gue benar-benar benci beliau, pasti selalu ada pelajaran atau kebaikan yang gue dapat. Toh, gue masih beli buku-bukuny, gue masih mengutip tulisannya dan banyak lagi. Sekarang bagi gue kembali ke QS Al Kafirun,
"bagimu agamamu dan bagiku agamaku".
Mulai sekarang, bertemanlah dengan siapapun, berkawanlah dimanapun, gak perlu jadi sosok yang banyak antinya, kita tidak pernah tau bagaimana mereka yang kita anggap kurang baik justru memberikan paling banyak pelajaran hidup. Kita tidak pernah tau mereka yang menurut pandangan mata tak indah justru memberikan banyak kebaikan pada kita, Selama kita serahin ke Allah, berharap ke Allah, dan niat kita karena Allah insha allah, bentuk kecewa itu tak akan nampak dan muncul bersamaan dengan mereka yang kabur dalam pandangan kita. Semangat Mey.
Komentar