Cita-cita Itu Masih Sama



Malam tadi kira-kira pukul Setengah sembilan, gue mengomentari salah satu status teman via aplikasi WhatsApp. Teman gue ini salah satu penerima beasiswa dari Kementerian Perindustrian RI juga tapi beda kampus. Dia baik banget, dulu pas gue ke Bandung kalau pulang dari Cicaheum gak ada mobil balik ke Majalengka, dia selalu siap anterin gue ke Terminal Leuwipanjang, pokoknya baik. Kita ngobrol banyak, obrolannya gak jelas gitu. Karena dasarnya kan gue suka bercanda nah dia itu juga gitu, kalau orang sunda bilang "Tukang Bodor" pisan.

"Mey, masih pengen lanjut S2?" tanya dia. 
Dalem hati tuh gue suka bingung kenapa yang nanya ke gue tentang S2 tuh pasti cowok, dan itu kebanyakannya begitu. Tapi kalau mau dipikir-pikir lagi, apa mungkin benar yang seringkali orangtua bilang sebagai perempuan diusahakan agar pendidikannya tidak melebihi pendidikan suaminya. Alasannya karena biasanya laki-laki akan minder akan hal itu. Jadi waktu itu orangtua gue juga ngelarang gue untuk lanjut S2 sebelum menikah. Bahkan sampai sekarang juga, meskipun gue sering menjelaskan alasan gue S2 itu apa, semua bukan ingin melebihi suami, sama sekali bukan.

Apa yang harus gue capai, semua sudah terfikirkan begitu matang. Gue tau dan sangat tau diri akan keberadaan gue sebagai seorang perempuan bahkan seorang istri kelak. Tugas utama gue nanti setelah menikah adalah berbakti kepada suami bukan orangtua lagi. Tidak peduli setinggi apa pendidikan lo nanti, intinya satu Berbakti Kepada Suami, udah titik.

Gue tidak mencari gelar, gue pun tidak mencari jabatan tinggi dari pendidikan gue, gue cuma punya visi kedepan, dan visi itu gue jadikan visi pernikahan. Visi dimana gue ingin membangun keluarga akademisi, sudah. Melewati hidup bersama pasangan yang saling mengingatkan satu sama lain, saling merindukan dikala jauh atau dekat, menemani amanah-amanah yang Allah titipkan kelak, melihat tumbuh kembangnya dengan menjadi anak-anak yang amanah, yang mampu menolong orang banyak, itu semua tidak lepas dari didikan lingkungan terdekatnya, dari ilmunya dan lingkungan terdekatnya yang akan senantiasa ada adalah seorang ibunya, ibunya, ibunya baru ayahnya.

By The Way, punya ilmu itu tidak meski punya pendidikan tinggi. Banyak orang sukses tak bergelar sarjana, dan itulah hidup. Semua tidak harus hitam, semua tidak harus putih. Ada bagian-bagiannya sendiri, juga ada pilihan masing-masing. Gak semua harus jadi Pejabat toh? atau mungkin pengusaha ? Kalau semuanya sama lantas bagaimana roda kehidupan ini akan berjalan. Jika semua orang memilih menjadi pedagang, lantas siapa yang akan menjadi pembeli. Hehe. Beda itu pasti selalu ada, sekarang bagaimana tugas kita untuk menjadikan beda sebagai kekuatan bagi masing-masing diri. 
Untuk itu, menurut gue tidak akan menjadi masalah ketika seorang perempuan memiliki cita-cita menyelesaikan pendidikan setinggi mungkin, entah berujung menjadi Ibu Rumah Tangga atau menjadi wanita karir, keduanya tetap sama yakni Seorang Istri dan Seorang Ibu. Selama niatnya baik, selama restunya didapat, why not?? Selama niatnya lillah, selama niatnya gak belok dari jalur yang sudah ada? Lanjutkan ....

Jadi, kalau ada sebagian orang beranggapan nanti suami minder jika pendidikannya lebih rendah dari istrinya, please untuk gue kriteria mencari suami tidak meski sepadan dalam hal pendidikan atau bahkan kemapanan. Semua akan mengindahkan ketika masing-masing diri tahu tugas dan tanggungjawabnya dalam menjalani Rumah Tangga. 

Komentar

Postingan Populer