Terblacklist
6
Juli 2015
Dear my stranger,
Entah
harus dari mana aku mulai semua. Entah harus kata apa yang harus aku tulis
dengan baik, entah kalimat apalagi yang meski aku rangkai agar ada satu waktu
kamu mau menggerakan tangan untuk membalas pesan singkat itu. Satu minggu tanpa
kabar itu mungkin terlihat biasa saja namun ada hal yang tak bisa aku anggap
biasa saat segala sesuatu yang berhubungan dengan nama MAYA harus terblacklist lagi.
Marah?
Sebel? Kecewa?
Tentu!
Tapi lagi-lagi aku yang harus sadar diri, mungkin ada orang yang jauh lebih
marah, sebel dan terlalu kecewa terhadapku. Aku akan selalu salah dalam
bersikap, berbicara dan bertingkah. Sikap yang kekanak-kanakan, bicara yang
acak-acakan, dan tingkah yang berantakan. Aku tak terlatih dengan begitu
sempurna. Ketika ucapan yang keluar dari mulutku harus jadi boomerang bagi
diriku sendiri. Ketika aku dengan ceroboh mengulang kesalahan yang sama. Maaf …
Sekarang,
aku tidak bisa menariknya kembali. Menarik pandanganmu agar kamu tetap berada
dalam pandanganku. Menarik hatinya agar tetap menyimpan satu nama teman baik
hidupnya, sekedar nama sederhana, Maya saja.
My
stranger …
Apa
kabar kamu disana? Masihkah demam, masihkah suka bergadang, masihkah bertingkah
konyol dan masih terlihat cool ? J
Mau
pergi kah ? kali ini benar-benar pergi kah ? boleh bercerita disini ?
Bageur
… aku pengen kita flashback
ke beberapa bulan kedepan dan ke satu
tahun yang lalu. Saat kamu datang dengan wajah exited nya, dengan tingkah konyolnya, dan dengan kemurah hatian
yang kamu miliki. Aku terkesima sesaat saat tahu keberadaan kamu. Namun segera
mungkin aku tepis karena banyak perasaan yang harus aku jaga. Akhirnya, aku
jatuh, aku jatuh sama perasaanku sendiri. Aku makan ucapanku sendiri jika aku
tidak akan jatuh hati padanya. Sampai aku harus memberanikan melawan janji yang
dulu aku buat dengan orang lain, demi satu nama itu, nama yang ingin selalu aku
genggam, kamu.
Sekarang
mungkin bukan waktu untuk menyesali semuanya. Aku sudah terlanjur menyakiti
hati kamu, sangat sakit. Hanya
saja aku ingin bilang,
jika ingin menghilang
tolong pamit terlebih dahulu. Karena kamu adalah tamu yang aku terima dengan
baik dan akan ku antar dengan baik pula saat kamu ingin pergi dari rumahku.
Jika ada yang salah, yang kurang sreg, yang keliru mari kita bicarakan dengan
baik. Karena kita terikat atas dua nama, dua hati dan dua kepala. Bukan aku
atau kamu. Jika memang sudah tidak bisa berdiam lagi dirumahku, silahkan pergi.
Tapi tamu yang baik adalah dia yang pergi pamit pada sipemilik rumah. Setauku
seperti itu. Selama kamu belum pamit aku masih tetap menunggu dengan setia, tapi
jika kamu kembali dengan niat pamit, aku
akan perlahan
menutup pintu rumahku sendiri.
#C.A.
#C.A.
Komentar