Pertama, Terblacklist



25 Juni 2015
Dear Allah,
Saya berusaha baik-baik saja sore tadi. Saya berusaha sebaik mungkin dengan ketidak nyamanan yang saya rasa. Saya masih ketawa bareng saat saya tahu dia memblacklist semua akun sosial media. Nothing, benar-benar biasa saja. Selang beberapa jam, benarkah ? sampai sebagitunya kah semuanya. Mulai was-was, mulai mempastikan lagi, mulai mencari tahu, dan masih berfikir positif bahwa ada yang bermasalah dengan hape saya. Di bagian pencarian kontak BBM, huruf awal namanya di ketik, masih muncul. Dua, tiga, empat, lima masih ada namanya. Dengan perasaan cemas spasi mulai meluncur lagi, deg …. Jari saya berhenti saat huruf spasi memunculkan kata “cari teman lain” bukan namanya yang saya cari.
Oh … Allah betapa engkau sangat menyayangi hamba, luar biasa sekali malam ini.
Saya baik-baik saja, saya baik-baik saja, saya baik-baik saja, saya baik-baik saja, iyah, saya harus terlihat baik-baik saja kan ? oke Allah, saya tidak bisa membohongi Mu dengan berkata baik-baik saja. Saya minta izin, satu hari ini saya harus mengulang tangis yang kau beri. Saya minta izin Allah, untuk mencurahkan kesedihan yang tak semestinya berlebihan.
Allah,
“Apa daya saya yang tidak bisa protes terhadapumu, ketika saya dihempas sana sini. Ketika kejadian itu selalu menghampiri saya. Ketika saya harus menangisi kejadian yang sama untuk kedua kalinya. Ketika kau tuntut saya untuk TAHU DIRI. kenapa harus saya dulu, kenapa tak kau coba melakukan hal yang sama terhadap teman-teman saya juga, kenapa harus selalu saya dulu. Yahh,  ternyata saya sadar hari ini. Allah lebih peduli terhadap saya dibanding teman-teman lain. Buktinya, dia selalu menegur saya ketika rasa memiliki makhluk ciptaannya terlalu berlebihan. Allah, kau begitu menyayangi saya. Mulai menghadirkannya, mulai menanamkan perasaan menyayanginya, mulai peduli terhadapnya hingga kau buat jarak diantara kita. Saya tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti dulu. membuat orang-orang tahu bahwa saya sedang dalam kondisi tidak baik padahal Allah jauh lebih tahu dibanding mereka. Saya tidak harus menangis dibalik tirai warna merah jambu menandakan saya tak sekuat yang orang tahu, padahal Allah tahu bahwa sayalah wanita kuat baginya.
Meski saya tahu, saya masih tidak bisa menahan semuanya sendiri, toh sekarang bukan orang tua, bukan kakak ataupun bukan teman yang harus saya jadikan tempat curhat melainkan Kau, Allah pemilik hati yang sesungguhnya. Mohon bimbing wanita satu ini menjadi wanita yang bisa ikhlas menerima takdir. Menerima kebenaran yang harus dijalankan. Menjauhi larangan yang telah ditetapkan dan tetap menjadi sosok wanita periang yang orangtua saya tahu, yang kakak saya tahu dan teman-temang saya selalu tahu.


 
“Kau melupakanKu, Maya. Kau lupa keberadaanKu. Kau lupa bahwa Aku lah sang penanam Rasa itu. Kenapa tak Sadar Diri juga? Bukankah itu hak Ku? Ku pinjamkan sebongkah hati kecil untuk sekedar memiliki sebagian saja. Kenapa kau memilikinya tanpa izinKu terlebih dahulu. Lantas sekarang, jika Ku ambil lagi milikKu, Aku kah yang harus kau salahkan? Bukankah yang marah dan murka hanyalah Aku?”
Astagfirullohal adzim,

#C.A.

Komentar

Postingan Populer