Berhentilah Bilang: Gue Baik-Baik Saja
Kemarin gue gak masuk kantor, mengulang bacaan tulisan yang intinya kita gak harus selalu menunjukan kita baik-baik saja. Ini sudah gue dalemin dan nyoba menghadirkan itu dikehidupan gue. Katanya .. Kita gak mesti mengklaim sesuatu negatif itu jadi hal positif. Karena terlalu menampilkan sisi positif atau terlalu berlebihan dalam usaha meyakinkan diri bahwa hidup akan baik-baik saja selama berfikir positif bisa menimbulkan penolakan terhadap suatu masalah yang terjadi. Padahal masalah itu sesuatu yang normal, menghindar bukan solusi yang baik. Menyalurkan dan mengambil pelajaran yang meskinya kita lakukan. Kalau lo sakit, akuilah lo sakit. Kalau lo cemas akuilah kalau lo cemas. Gak perlu berpura-pura tampil seceria dan sepositif itu.
Gue tersadar, bahwa selama ini gue sudah banyak melakukan penolakan terhadap sesuatu negatif yang datang dalam hidup gue. Yang gue kira semuanya akan jauh lebih baik ketika gue menghindar dan berfikir positif terus-terusan. Gak bisa menerima bahwa gue manusia biasa. Yang dalam realitanya tak mungkin bisa sesempurna itu menerima semua hal yang dianggap gak baik buat hidup gue.
Dan gue akui bahwa gue itu salah satu orang yang gengsian dalam mengekspresikan apa yang gue rasakan atau yang tengah gue alami. Beberapa hari yang lalu, gue sempet nulis tentang kepura-puraan gue yang sok kuat. Iya, gue merasa seperti itu aja. Sok kuat dan sok tegar didepan orang. Usul punya usul gue mulai tambah sadarnya kalau gue itu sok kuat saat di Jakarta tahun 2013, adek tingkat gue bilang:
"Kak Maya itu orang yang paling kuat yang pernah aku temuin disamping sifat kekanak-kanakannya." gumamnya.
Gue tersenyum sinis, lho kok bisa menyimpulkan seperti itu padahal seinget gue, gue itu gak pernah bercerita tentang kehidupan gue ke dia.
"Masa? Aku kok gak merasa yah."
"Iya kah kak? Tapi emang kuat lho kak, kakak bisa mempertahankan hubungan kakak dengan seseorang yang kehadirannya aja gak bisa ditebak. Kakak kok mau digantungin begitu dan mau selalu menerima kedatangan orang yang jelas-jelas gak bisa memastikan hubungannya dengan kakak. Apalagi jarak kalian tuh bukan sekedar jarak. Kakak di Jakarta dia di Pulau yang berbeda, menurutku sangat jauh. Saat gak ada sekalipun, kakak tetep setia. Saat dia tak kunjung kasih kabarpun kakak gak pernah marah, saat dia seenaknya datang kakak masih mau memafkan. Aku sih gak bisa kaya gitu"
"Cobain deh kaya gitu" jawab gue sambil ketawa
"Aku gak bisa kak. Kakak baik-baik saja? Kakak gak pengen move on gitu. "
Deg ... Gue ulang pertanyaan dia dalam hati
"Kakak baik-baik saja?"
Tak selang berapa lama, guepun menjawab
"Kalau gak baik-baik saja, kamu mungkin akan liat aku nangis sepanjang malam lho haha."
Kejadian ini yang menyadarkan gue. Mengingat-ngingat apa yang dibilang adik tingat gue dulu bahwa 'Gue Kuat'. Iya, gue selalu bilang gue baik-baik saja dan selalu baik-baik saja. Pertanyaan terakhir kali dari adik tingkat beberapa tahun kebelakang sering datang memastikan kalau sebenarnya gue itu baik-baik saja atau enggak. Percakapan ini gue contohkan bukan karena gue pengen mengungkit cerita yang lalu, bukan. Ini pelajaran penting dan berharga yang sampai sekarang tetap gue jadiin sebagai pelajaran. Gue baru sadar sekarang gara-gara kata-kata 'Kuat' itu, ternyata waktu itu tuh gue gak lagi baik-baik saja. Gue sakit hatinya, gue sakit perasaannya, gue kecewa seperti halnya yang dirasakan perempuan lain. Tapi gue selalu bilang gue baik-baik saja. Seolah-olah orang tahu gue gak marah di-PHP seseorang, seolah-olah guelah perempuan tersetia dan terbaik karena selalu membuka pintu maaf untuk orang tersebut. Terlepas dari alasannya karena sayang, lebih daripada itu gue lagi memanipulasi diri kalau gue ingin terlihat baik-baik saja dimatanya. Look ... I'm positive, my life is fruitful. Kan udah salah ya.
Sama halnya ketika gue selalu baik-baik saja didepan keluarga gue, mereka sebatas tau gue anak yang kuat, anak yang sangat mandiri, anak yang baik-baik saja tanpa banyak masalahnya. (Coba baca masalah gue yang sok kuat didalam keluarga pada tulisan sebelumnya). Iya karena gue udah banyak menipu dan memanipulasi orang dengan gue yang sok kuat ini. Yang seceria ini, sekanak-kanakan ini dan semanja ini! Maya tuh gak sesuai dengan umurnya karena masih terlihat seperti anak kecil, begitu.
Kenapa gue seperti itu? Karena gue gengsi, karena gue gak mau dikasihani sama orang. Karena gue gak mau dikasihani dan gak mau dikasihani. Malu :'((((((( mau cerita ke orang tuh malu karena bisa mengganggu optimisme yang mereka punya, mau cerita ke orang malu karena takut disebut gue tuh tukang ngeluhin hidup. Dan masih banyak hal-hal dimana sesuatu yang negatif ketika hadir dihidup gue, gue selalu tidak mau mengakuinya dan selalu berusaha "I'm strong" begitu dan selalu begitu, menyimpannya sendirian. Yah, anggaplah saat itu gue sedang jadi bagian dari Pollyanna Syndrome "Kecendrungan untuk terus menerus merasa optimis, senang dan positif, tapi seringkali gak realistis."
Iya, berfikir positif itu memang bagus untuk mental kita, tapi terlalu positif juga gak bagus. Kita alamiah aja gitu, toh kan dalam realitanya kita gak sesempurna itu. Kata mbak Aji ditulisannya, bahwa perasaan-perasaan sedih, kesel, kecewa, sakit itu enggak bikin seseorang jadi lemah atau buruk. It's just, we are human and we are alive. We're broken, life is broken. Why? karena emang begitu desainnya.
Terus meski gimana?
yah menurut buku "Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat" yang gue baca dan yang gue simpulkan bahwa kita harus bisa menerima. Menerimanya dan membiarkannya hadir didiri kita. Lo merasa sedih, nangislah. Cerita sama orang yang bener-bener bisa care sama masalah kita. Ceritakan apa yang lo rasakan, kekecawaan dan kesedihan itu coba keluarkan kalau memang harus dikeluarkan. Mau marah, marahlah dengan penyaluran yang benar. Justru dengan menerimanya kita jadi bisa belajar dan menyadari apa-apa yang meski kita ambil hikmahnya dari apa yang terjadi sama kita. Dan gue ulang lagi ini ya, 'Kalau kita gak membiarkan orang buat nolong perasaan kita, sampai kapanpun kita gak akan dapat pertolongan'. Toh semua perasaan itu enggak abadi kan?
Jadi, gue sekarang lagi belajar untuk enggak memanipulasi diri gue yang ceria dan enggak memanipulasi diri gue yang ada lukanya. Anggaplah sisi positif itu menjadikan kita buat semangat dan optimis, juga menyukai sisi negatif untuk tetap realistis.
Komentar