AGAMIS

Sebagian orang menganggap diri nya lah yang paling suci. Saling mengikrarkan diri bahwa golongan mereka lah yang paling baik. Mengeluarkan berbagai banyak dalil maupun argumen yang mungkin sebagai pembelaan yang harus dan mesti dilakukan. 
Bagi saya, identitas itu level pentingnya masih berada dibawah dari sebuah iman. Ada hal yang lebih hak lagi yang mesti kita renungkan dan fikirkan. Allah telah berfirman didalam Al - Qur'an Ad - Dzariat : 56
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia supaya mereka beridah kepada-Ku" 
Beribadah kepada Allah itu berarti melaksanakan perintahnya dan menjauhi laranganNya. Namun disini mari kita kerucutkan lagi ibadah yang seperti apa yang menjadi hal yang sangat mutlak dan wajib kita kerjakan.
Lihat lagi dalil Al-Qur'an dalam surat Al- Ankabut: 45
"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar. Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan".
Sudah jelas sekali, bahwa shalat itu adalah ibadah yang akan dimintai pertanggungjawabannya pertama kali. Yang kelak pertama kali dihisabpun dari segenap amalan seorang hamba di hari kiamatpun adalah shalatnya.
Tapi sekarang banyak orang yang hanya sibuk mempertontonkan kehebatan dan kegagahannya dalam mengedepankan identitas agamanya. Mereka begitu mencintai golongan saja, mereka terlalu menjudge bahwa golongan mereka lah yang paling benar. Mereka terlalu sibuk banyak mengkritik orang habis-habisan dibanding banyak mengkritik dirinya sendiri. Mereka banyak sibuk menyalahkan ini itu salah, ini itu dosa, ini itu dilarang, ini itu bid'ah ketimbang mereka sibuk memperbaiki gerakan shalatnya, memperbaiki wudhunya dalam membasuh muka, membasuh tangan dan lain sebagainya. 
Iya, kenapa mereka lebih sibuk mengcover penampilannya didepan publik lalu membusungkan dada bahwa mereka lah manusia agamis itu. Manusia paling benar versi manusia.
Bagi saya, lakukanlah terlebih dahulu hal-hal yang terkadang kita anggap sepele atau kita anggap hal itu hanya rutinitas kita sehari-hari. Belajarlah untuk terus bermuhasabah dan memperbaikinya dimulai dari diri kita sendiri. Dimulai dari shalat kita. Fokuslah melakukan hal baik yang kecil namun rutin ketimbang memfokuskan diri untuk kebaikan yang besar tetapi justru mengabaikan kebaikan yang kecil yang peluanya lebih besar untuk kita lakukan setiap hari dan bisa dimana saja.
Misalnya, kalau kita belum mampu memberangkatkan kedua orangtua kita naik haji minimal jaga ekonomi mereka agar stabil dan buat senyum dan syukur mereka. Kalau kita belum mampu bersodakoh kepada anak yatim minimal bersodaqohlah kepada orangtua kita, tidak dengan materi bisa saja dengan tingkah laku kita. Kalau juga misalkan kita belum mampu menyenangkan sahabat dan teman-teman kita minimal jangan mencari kesalahan atau kelemahannya, kemudian menceritakan kepada oranglain. 
Juga misalkan ketika kita belum mampu menjaga kota kita bersih dari korupsi minimal gak usah korupsiin uang yang diberi  dari suami ya HAHA. Gak usah suami deh, dari orantua maksudnya. Dan yang terakhir, jika kamu belum bisa membahagiakan oranglain, minimal tidak menyakiti hatinya.
Hmm .. Oh ya, Mungkin sayapun termasuk golongan yang hanya mengoles tampilannya saja. Mungkin sayapun tengah sibuk membangun image "agamis" itu. Maka daripada itu, sayapun terus belajar. Belajar melihat semuanya gak dari sudut pandang saya. Belajarlah memaknai semuanya dengan baik, al-qur'an yang menjadi pegangan kita semoga teraplikasikan dengan baik kedalam hati dan perbuatan kita sehari-hari. 

Komentar

Postingan Populer