Kita Akan Jadi Teman yang Baik
Gue terlalu jadi pecundang saat gue terlalu melibatkan perasaan gue terhadap orang yang gue sayang (lawan jenis). Gue terlalu baperan untuk mencintai dengan keterlaluan. Gue terlalu takutan kehilangan sosok yang udah gue sayang. Dan gue Salahnya pake gak lihat pandang.
Well, entah harus dimulai darimana saat suatu waktu orang yang banyak dikagumi perempuan bisa datang menghampiri dan menyatakan perasaan sayangnya ke gue. Banyaknya rasa enggak percaya, doi bisa berjuang untuk mau sekeder dekat karena katanya sayang. Meski sempet ragu, gue perlahan nerima doi dengan segala konsekuensi yang harus gue terima. Gue harus kehilangan beberapa teman. Gue sampai gak bisa bertegur sapa sampai detik ini.
Gue yang baperan dan suka berlebihan sering merasa disakiti meski itu menurut versi gue yang lebay. Gue banyak nangis dan banyak omongan yang kurang mengenakan tentang penilaian gue yang katanya tak berperasaan. Tapi karena hati gue udah dimasukin banyak cinta, gue gak pernah denger apa yang temen gue bilang. Gak pernah peduli tentang perasaan temen gue sendiri. Dan tetep berjalan kedepan, menjaga apa yang menurut gue benar.
Dari jauh hari, doi selalu bilang "gak usah terlalu berlebihan dalam mencintai apapun". Gue terima tapi tidak bisa gue jalankan. Karena urusan perasaan gue gak bisa sembarang menahan. Pokoknya gue sayang elu, titik. Gue yang suka dengan perhatian, dengan kabar, dengan keromantisan lambat laun belajar menjadi perempuan yang lebih kalem. Yang dibiasakan untuk tak menuntut minta kabar, tak menuntut minta perhatian dan bahkan keromantisan. Perempuan egois ini perlahan mulai jadi sosok yang masa bodo, yang jutek, yang gak ngemis di tlp atau di sms. Sampai sedrastis itu perubahan yang gue alami. Cuma demi apa coba? Demi bisa bertahan dan mempertahankan hubungan gue.
Ahh, terlalu rumit deh kalau gue ceritakan. Hingga ada suatu momen dimana kepercayaan yang gue tanam selama ini yg tak bisa tergoyahkan justru mulai merasa tidak yakin. Gue yang kenak-kanakan justru melayangkan sebuah pertanyaan buat doi. Gue tanya apakah dia serius atau enggak untuk hubungan ini. Karena gak ada kata jadian tapi masing-masing saling tau bahwa kita saling sayang. Lu tau jawabannya sesimple yang udah gue predeksi "ya", tapi gak sampai disitu. Tiba-tiba dia melarat jawabannya. Dia bilang bahwa ada tiga kemungkinan dari jawaban untuk pertanyaan yang gue ajukan.
Yang pertama ya, kedua ragu dan terakhir tidak. Jawaban dia justru ragu. Dan minta ke gue untuk tidak menanyakan pertanyaan ini lagi ke siapapun orang yang deket ama gue. Gue gak bisa bales chat dia lagi. Gue mentok. Diem. Gak ngerti dan gak paham.
Jadi? Ah sudahlah gue lagi-lagi cuma perempuan kekanak-kanakan yang pikirannya memiliki banyak asumsi yang hanya akan menyakiti diri gue sendiri.
Dari sana, gue paham dan sadar. Semua yang gue lakuin itu diluar batas yang semestinya gak gue langgar. Gue terlalu berlebihan membawa perasaan sejauh ini. Lampu kuning yang sudah doi peringatin gak juga gue lirik dan ujungnya justru gue yang nanggung sakit ini sendirian.
Sejak itu pula gue justru bertekad untuk melepaskan perasaan kuat gue. Untuk melupakan hal yang bikin gue merasa diperlakukan sedemikian baiknya. Untuk melupakan kesakitan yang gue alamin. Untuk membuang kepura-puraan gue yang sok tegar dan sok sabar. Gue gak setangguh yang orang sangkakan.
Tapi dari sanapun gue banyak belajar. Belajar jadi perempuan yang gak lebay dan lebih tenang. Yang pada akhirnya gue bisa menyimpulkan bahwa gue sudah ga seegois dulu. Gue yang sekarang gak suka menye-menye minta diucapin selamat pagi dan selamat tidur. Gue yang sekarang bisa ngehargain uang dan makanan. Dan yang penting, gue udah gak ngoyo berlebihan menyerahkan cinta gue buat doi seorang.
Apapun yang orang bilang, kita akan selalu menjadi teman baik. Di masa dan waktu yang berbeda. Ditempat yang kita pilih. Dijalan yang mungkin tak sama lagi dan dengan kehidupan masing-masing. Setidaknya gue harus bilang terimakasih dari hati gue yang paling dalam. Untuk 2 tahun pelajaran yang gak gue dapat dari bangku pendidikan. Justru gue dapat dari orang yang gue kagumi doi sampai kapanpun. Meski kini perasaan yang gue miliki tak bisa sama seperti waktu 2 tahun itu.
Hidup yang baik ya, dari teman baikmu.
CA
Komentar