Kehilangan yang Terulang
Sayangnya, gue bukan Tuhan.
Gue jatuh lagi ternyata.
Mungkinkah ini semua hanyalah mimpi.
Ah, ternyata bukan.
Aku sendiri lagi.
*******
Jadi sudah seberapa sering dan lama teman-teman merasa terlalu banyak Drama yang meski dilaluin. Drama kali ini melebihi episode Drama Korea yang sering kali gue tonton. Ya, pengulangan itu ternyata gak sekedar hadir di mata pelajaran Bahasa Indonesia melainkan dikehidupan nyata sebagai sosok makhluk bernama manusia.
Sebagai seorang perempuan tentunya gue sadar, hati dan otak enggak bisa dengan mudah berkompromi untuk hanya sekedar saling memahami satu sama lain. Tak sedikitpun ingin mengklaim gue baik-baik saja jika ditinggal pergi dengan mudah. Rasa sakit, rasa benci, rasa khawatir ternyata nyampur begitu saja dengan cepat. Maaf ... gue bukan perempuan tangguh yang orang sangkakan.
Waktu itu, jalan menuju "oke, I'll be fine and always fine" membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya. Gue berada di zona nyaman dengan beda orang juga beda yakin-faham yang kita anut pada masing-masing diri. Luka dan canda gue berusaha laluin dengan kesalahan-kesalahan dimana kita harus bisa saling ngerti dan paham. Meskipun pada ujungnya kita harus jalan masing-masing.
Gue gak pernah ingkar atas kesalahan yang udah gue bikin, kesalahan yang udah gue tanam dihati orang mungkin tanpa gue sadari sebelumnya. Yang pasti suka maupun duka yang terlewat kadang bisa lenyap karena tertimpun tumpukan rasa benci yang menyerang.
By the way, seperti yang gue bilang Drama yang sudah terlewat itu benar-benar nyiksa gue. Bikin gue mentok pengen bilang "Sudahlah, sudahin saja semuanya". Karena Bom waktu yang gue punya benar-benar nyerang gue, bikin gue frustasi dan kehilangan itu selalu terulang lagi. Gak mau punya satu ikatan yang pasti kecuali ikatan yang SAH nya diakui agama dan negara.
Cuma dipertengahan jalan pas udah mau "terserah" tiba-tiba selalu ada yang bisikin
"Mey .. tanemin di hati bahwa ada dua versi yang harus kita pegang. Pertama, versi Allah dan kedua versi manusia. Yang Allah kasih bisa jadi itu adalah bentuk baik versi Allah bukan versi manusia. Yang buruk versi manusia belum tentu buruk versi Allah. Tapi bukan berarti kita jalan ditempat bukan? Bukan berarti kamu nerima dengan apa yang tengah terjadi. Bukankah Allah nitipin otak untuk berfikir, tangan untuk menengadah, mulut untuk meminta ?? Please Mey, berikhtiarlah semampu dan sebisa elu. Kalau ujungnya memang tetap seperti itu ya sudah, itu sudah jadi hasil yang menurut Allah baiknya. Percayalah, Allah Maha Tahu yang Terbaik buat umatnya, Allah selalu liat ikhtiarnya, ikhtiar dan ikhtiar.
Lantas, sejauh mana elu berikhtiar Mey ?
Komentar